Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa perdamaian yang dicita-citakan negaranya setelah berperang dengan Amerika Serikat dan Israel ialah perdamaian permanen yang terjamin, bukan perdamaian pura-pura yang nantinya dilanggar lagi.
Saat ditemui seusai menyampaikan kuliah umum di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) di Jakarta, Rabu, sang dubes menyebut perdamaian yang diperlukan Iran saat ini adalah yang bersifat terjamin, menyeluruh, dan mengakhiri perang.
“Bisa dijamin artinya pihak lawan tidak akan menghimpun kekuatan untuk kembali menyerang Iran,” kata Dubes Boroujerdi.
Menyeluruh, kata dia, bermakna perdamaian yang terwujud meliputi seluruh wilayah Iran serta negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah, terkhusus Lebanon yang juga digempur Israel.
Perdamaian yang disepakati dengan Amerika Serikat nantinya juga diharap bersifat permanen serta benar-benar menjadi tanda berakhirnya segala bentuk kekerasan dan serangan di wilayah Iran maupun sekitarnya.
Lebih lanjut, Dubes Iran menyampaikan harapan agar kesepakatan perdamaian yang terwujud dengan Amerika Serikat bersifat setara dan saling menghormati kedua belah pihak.
Teheran juga menuntut agar haknya menjaga kekuatan militer yang ada serta hak memanfaatkan berbagai teknologi untuk tujuan damai, termasuk teknologi nuklir, dijamin.
“Kami meminta perdamaian yang menghormati hak kami untuk menggunakan berbagai teknologi untuk tujuan damai,” demikian Dubes Iran.
Adapun dalam perkembangan terbaru, pemerintah Iran mengajukan lima syarat kepada AS sebagai langkah “pemulihan kepercayaan” sebelum mereka mau kembali melakukan perundingan, menurut laporan kantor berita Fars, Selasa (12/5).
Lima tuntutan tersebut ialah mengakhiri perang di semua front, khususnya Lebanon; pencabutan sanksi; pencairan aset Iran yang dibekukan; kompensasi atas kerusakan perang; serta pengakuan atas hak kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Ketegangan di Timur Tengah mengalami eskalasi menyusul serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang memicu serangan balasan Iran terhadap Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan.
Meski gencatan senjata berhasil tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan, yang kemudian diperpanjang oleh AS, negosiasi yang berjalan di Islamabad kemudian masih belum berhasil mencapai kesepakatan jangka panjang.
Baca juga: Liga Arab sebut dugaan penyusupan Iran ke Kuwait "preseden berbahaya"
Baca juga: Iran gugat AS atas serangan ke fasilitas nuklir dan pemberian sanksi
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·