Pemkot Jakut jaga eksistensi budaya islami lewat pelatihan rebana

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara (Jakut) melalui Suku Dinas Kebudayaan berupaya menjaga eksistensi budaya Islami dengan menggelar Pelatihan Seni Musik Islami yang diikuti sebanyak 30 warga dari enam kecamatan di kota setempat.

“Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam menjaga eksistensi seni budaya Islami, khususnya musik rebana, agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” kata Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kota Jakarta Utara Dya Perwita Kusuma di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pelatihan itu tidak hanya menjadi ruang pembinaan keterampilan, tetapi juga wadah memperkuat kreativitas dan kualitas para pelaku seni musik Islami di Jakarta Utara.

Dia menjelaskan rebana bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai religi, edukatif, dan sosial.

Oleh karena itu, kata dia, regenerasi pelaku seni tersebut harus diperkuat melalui pembinaan yang terarah dan berkesinambungan.

“Kami berharap lahir kelompok-kelompok rebana yang semakin berkualitas serta mampu menjaga warisan budaya Islami agar tetap diminati generasi muda,” ujar Dya.

Baca juga: Rano Karno sebut seni punya peran penting bentuk identitas kota

Sementara itu, Kepala Seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Kota Jakarta Utara Wawan Setiawan mengatakan peserta dibagi ke dalam tiga kategori pelatihan, yaitu Rebana Hadrah, Rebana Qasidah, dan Rebana Ketimpring

Pelatihan tersebut dikemas melalui metode teori dan praktik dengan pendampingan langsung dari sejumlah pelatih berpengalaman di bidang seni rebana.

“Peserta mendapatkan materi mulai dari pengenalan dasar seni musik Islami, teknik permainan rebana, penguasaan irama, harmonisasi kelompok, hingga praktik penampilan dan evaluasi,” tutur Wawan.

Lebih lanjut, dia menyebutkan materi yang diberikan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis rebana sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan menarik.

Pada akhir kegiatan, seluruh peserta akan menampilkan hasil latihan dalam sesi evaluasi kelompok sebagai bentuk implementasi kemampuan yang telah diperoleh selama pelatihan.

“Kami berharap ilmu yang didapat ini dapat terus dikembangkan dan ditularkan kembali di lingkungan maupun kelompok seni masing-masing, sehingga seni musik Islami semakin tumbuh dan lestari di Jakarta Utara,” ungkap Wawan.

Baca juga: Pramono ingin sejarah dan budaya Betawi jadi materi pendidikan sekolah

Baca juga: Indeks budaya literasi warga Jakarta meningkat

Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.