Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mendorong upaya pemusnahan massal terhadap populasi ikan sapu-sapu di wilayah ibu kota. Langkah ini diambil karena keberadaan ikan tersebut dinilai invasif dan berisiko bagi ekosistem lokal.
Meskipun ikan ini lazim dikonsumsi oleh masyarakat di wilayah asalnya, Sungai Amazon, kondisi lingkungan di Jakarta memberikan dampak yang jauh berbeda. Perbedaan kualitas air menjadi faktor utama yang memengaruhi keamanan ikan ini jika dimakan.
Ikan sapu-sapu sendiri mencakup beberapa spesies dari famili Loricariidae, seperti Hypostomus plecostomus dan Psendorinelepis genibarbis. Ciri fisiknya sangat khas dengan mulut penghisap serta sisik yang menyerupai perisai pelindung.
Di daerah asalnya seperti Brasil dan Peru, ikan ini dikenal dengan nama lokal Acari atau Carachama. Masyarakat tepi sungai Amazon mengonsumsinya dalam jumlah besar, bahkan mencapai 462 gram per orang setiap harinya.
Dikutip dari Detik iNET, terdapat enam tingkatan rantai makanan di Amazon yang melibatkan ikan ini. Ikan sapu-sapu bertindak sebagai pencari makan di dasar sungai yang kemudian dimangsa oleh ikan Aracu hingga akhirnya mencapai predator puncak seperti Tucunare atau Arapaima gigas.
Ekosistem Amazon yang masih relatif bersih dan kaya vegetasi organik membuat ikan sapu-sapu di sana aman diolah menjadi berbagai hidangan tradisional. Beberapa di antaranya adalah sup Chilcano de Pescado, Timbuche, hingga pepes Patarascha.
Ancaman Pencemaran Logam Berat
Kondisi keamanan pangan ini mulai berubah seiring meningkatnya pencemaran lingkungan. Berdasarkan laporan jurnal ACS Omega Volume 11 Issue 7 Tahun 2026, ikan sapu-sapu di Amazon kini mulai terdeteksi mengandung logam berat berbahaya.
Kandungan zat seperti merkuri, kadmium, arsenik, hingga timbal mulai mencemari tubuh ikan tersebut. Jika habitatnya kotor, ikan sapu-sapu akan menyimpan zat kimia berbahaya yang membuatnya tidak lagi layak untuk dikonsumsi manusia.
Kondisi Ikan Sapu-Sapu di Jakarta
Situasi di Jakarta jauh lebih mengkhawatirkan karena kondisi sungai yang telah tercemar berat. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menegaskan adanya kandungan logam berlebih pada ikan tersebut.
"Untuk dimanfaatkan belum bisa, sebelum ada kajian resmi yang menyatakan bahwa ikan tersebut aman untuk dikonsumsi atau dijadikan pakan ternak. Karena residu logam berat di atas ambang batas," ujar Hasudungan, Sabtu (18/4).
Sebagai bagian dari pengendalian populasi, sekitar 6,98 ton atau setara 68.880 ekor ikan sapu-sapu telah ditangkap dari berbagai lokasi di Jakarta per Jumat (17/4). Puluhan ribu ikan hasil operasi serentak tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara dibelah dan dikubur di titik-titik sekitar pintu air.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·