Penerbitan Surat Utang Korporasi Capai Rp 59,35 Triliun per Maret 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatatkan realisasi penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 59,35 triliun hingga akhir Maret 2026. Angka tersebut secara signifikan melampaui nilai surat utang yang jatuh tempo sebesar Rp 26,88 triliun pada kuartal pertama tahun ini di Jakarta, Selasa (15/4/2026).

Sebagaimana dilansir dari Money, Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto menyatakan bahwa banyak korporasi memanfaatkan momentum suku bunga rendah untuk menghimpun dana di pasar modal. Tingginya angka penerbitan ini mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap biaya dana yang lebih efisien.

"Hingga akhir Maret kemarin, penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 59,35 triliun, melampaui jatuh temponya yang sebesar Rp 26,88 triliun sepanjang kuartal pertama," kata Suhindarto, Kepala Divisi Riset Pefindo dalam pemaparan virtual.

Suhindarto menjelaskan bahwa kondisi suku bunga pada awal tahun 2026 memicu peningkatan aktivitas penerbitan. Perusahaan menilai biaya dana dari pasar obligasi jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan suku bunga kredit yang ditawarkan pihak perbankan.

Pilihan pada pasar obligasi menguat karena sifat suku bunga perbankan yang dinilai masih cenderung kaku. Dengan menerbitkan surat utang, korporasi dapat memperoleh kupon yang lebih murah untuk mendukung kebutuhan pendanaan maupun ekspansi bisnis mereka.

Dari sisi durasi, surat utang dengan tenor 5 tahun menjadi yang paling mendominasi pasar sepanjang kuartal pertama 2026. Tren ini diikuti oleh permintaan pada tenor 1 tahun dan 3 tahun, sementara tenor 7 tahun terus menunjukkan peningkatan sejak tahun lalu.

"Dari sisi tenornya memang sejauh ini tren yang terjadi di tahun 2025 kemarin di mana tenor yang relatif menengah panjang itu masih berlanjut dan mendominasi penerbitan selama satu kuartal terakhir ini," ujar Suhindarto.

Sebagai perbandingan, total realisasi penerbitan surat utang korporasi sepanjang tahun 2025 menyentuh angka Rp 284,30 triliun. Kebutuhan untuk pembiayaan kembali atau refinancing menjadi faktor pendorong utama perusahaan kembali melantai di pasar obligasi.

Penurunan suku bunga acuan yang terjadi sejak Desember 2024 hingga November 2025 turut memberikan pengaruh besar. Suku bunga yang melandai dari 6 persen menjadi 4,75 persen tersebut berhasil mendongkrak minat emiten sekaligus daya tarik bagi investor.

Data Pefindo menunjukkan bahwa tenor 5 tahun menguasai porsi sekitar 84 persen dari total keseluruhan penerbitan. Preferensi terhadap tenor menengah ini mencerminkan strategi korporasi dalam menjaga fleksibilitas jatuh tempo di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.