Jakarta (ANTARA) - Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris) Hanif Rahadian menilai kehadiran pesawat tempur Rafale harus didukung oleh kekuatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri.
"Hal itu agar pemerintah tidak terlalu bergantung pada asing untuk mencari suku cadang dan teknologi pelengkap penunjang operasional Rafale," kata Hanif saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Karena itu, lanjutnya, Indonesia harus memperkuat kemampuan pemeliharaan, perawatan, serta pemenuhan suku cadang melalui industri pertahanan dalam negeri.
Menurut Hanif, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan operasional seluruh alutsista, termasuk Rafale, dapat berjalan dalam jangka panjang.
Hal itu harus dilakukan untuk menghadapi situasi genting dan dampak konflik global yang saat ini masih berlangsung.
Baca juga: Analis: Kehadiran Rafale tanda adanya lompatan teknologi alutsista TNI
Konflik yang berkepanjangan ini juga dikhawatirkan mempengaruhi kondisi negara pabrikan yang dapat berujung pada terhambatnya produksi suku cadang jet tempur Rafale di Indonesia.
Karenanya, Hanif berharap kehadiran Rafale dapat memancing inhan dalam negeri untuk meningkatkan inovasi produknya.
Dengan majunya inhan dalam negeri, Hanif yakin Rafale dapat beroperasi dengan maksimal tanpa khawatir adanya dampak konflik global.
"Penguatan kapasitas industri pertahanan nasional menjadi penting agar dukungan pemeliharaan dan 'sustainment' (keberlanjutan) armada TNI AU dapat berjalan secara konsisten, mandiri, dan berkelanjutan," katanya.
Sebelumnya, TNI AU baru saja menerima enam unit Rafale beserta seperangkat rudalnya.
Baca juga: Melihat deretan alutsista baru TNI beserta kemampuannya
Penyerahan itu secara simbolis telah dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto ke Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, lalu diserahkan ke Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5).
Keenam pesawat tersebut ditugaskan di Skadron 12 yang berlokasi di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.
Kini, TNI masih menunggu 36 pesawat Rafale lainnya yang masih dalam proses pembuatan di perusahaan penerbangan Dassault di Prancis.
Pewarta: Walda Marison
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·