Pengembangan Jalur Kereta Api di Luar Jawa Dinilai Penting untuk Memperkuat Logistik Nasional

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Angkutan perkebunan KAI meningkat 6,18 persen menjadi 213.857 ton pada Januari–April 2026

Jakarta (ANTARA) - Perkembangan kawasan industri, pelabuhan, dan sentra komoditas di luar Pulau Jawa membuat kebutuhan konektivitas logistik nasional terus bergerak mengikuti arah pertumbuhan ekonomi baru. Dalam kondisi tersebut, transportasi berbasis rel mulai dipandang memiliki peran yang semakin strategis untuk menjaga kelancaran distribusi barang dalam volume besar secara berkesinambungan.

Karena itu, pemerintah terus mempercepat pembahasan pengembangan jaringan kereta api Trans Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi sebagai bagian dari penguatan konektivitas nasional jangka panjang.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pengembangan jaringan rel menjadi salah satu prioritas pembangunan infrastruktur yang saat ini dibahas lintas kementerian dan lembaga.

“Kereta api kita harapkan bisa berperan lebih besar untuk penumpang maupun angkutan barang. Dengan begitu, konektivitas dan produktivitas daerah dapat terus meningkat,” ujar AHY usai rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Selasa (22/4).

Senada dengan hal itu, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kebutuhan distribusi logistik nasional saat ini semakin erat dengan pengembangan kawasan produksi dan industri di berbagai daerah, terutama di luar Pulau Jawa.

Menurut Anne, pola distribusi komoditas dalam jumlah besar membutuhkan sistem transportasi yang mampu bergerak stabil, terjadwal, dan terhubung dengan pusat produksi maupun pelabuhan.

Misalnya, KAI mencatat volume angkutan perkebunan sepanjang Januari–April 2026 mencapai 213.857 ton, meningkat 6,18 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebanyak 201.408 ton.

Sebagian besar angkutan tersebut didominasi crude palm oil (CPO) dan turunan kelapa sawit yang digunakan untuk kebutuhan industri pangan hingga campuran biodiesel nasional.

“Pertumbuhan angkutan perkebunan menunjukkan aktivitas distribusi komoditas strategis terus berkembang. Mobilitas hasil produksi dalam jumlah besar membutuhkan dukungan konektivitas yang mampu menjaga kesinambungan perjalanan barang dari kawasan produksi menuju fasilitas pengolahan dan pelabuhan,” ujar Anne.

Ia menjelaskan, di sejumlah wilayah penghasil komoditas, distribusi logistik sering menempuh perjalanan panjang antarkawasan. Dalam situasi tersebut, transportasi berbasis rel menjadi bagian penting dalam mendukung efisiensi distribusi karena memiliki kapasitas angkut besar dan pola perjalanan yang konsisten.

Menurut Anne, pengembangan jaringan kereta api juga akan memperkuat keterhubungan antarsimpul ekonomi, mulai dari kawasan industri, pelabuhan, hingga pusat distribusi regional.

“Ketika konektivitas antarwilayah semakin baik, pergerakan logistik menjadi lebih terintegrasi dan ruang pertumbuhan ekonomi daerah ikut berkembang,” jelas Anne.

Pemerintah memperkirakan kebutuhan pengembangan jaringan rel nasional mencapai sekitar 14.000 kilometer yang akan dilakukan secara bertahap melalui berbagai prioritas pembangunan dan skema pembiayaan.

Selain mendukung konektivitas logistik, pengembangan transportasi berbasis rel juga menjadi bagian dari penguatan sistem transportasi berkelanjutan. Dalam rapat koordinasi tersebut, Menko AHY menyampaikan kontribusi emisi kereta api relatif kecil dibanding moda transportasi darat berbasis jalan.

Saat ini jaringan kereta api nasional masih didominasi di Pulau Jawa. Sumatra telah memiliki jaringan rel yang terus berkembang, sementara Sulawesi dan Kalimantan menjadi bagian dari rencana pengembangan jangka menengah dan panjang pemerintah.

“Pengembangan perkeretaapian memerlukan sinergi lintas sektor karena konektivitas transportasi akan ikut menentukan kelancaran distribusi, daya saing wilayah, dan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang,” tutup Anne.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.