Perang di Iran Memperumit Pemulihan dan Memicu Inflasi Global

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Dampak dari perang di Iran terus menjalar ke seluruh perekonomian global saat ini. Situasi tersebut memperumit prospek pemulihan ekonomi sekaligus memicu kekhawatiran terkait lonjakan inflasi, seperti dikutip dari Bloombergtechnoz.

Di Amerika Serikat (AS), salah satu indikator utama harga konsumen naik pada laju tercepat sejak 2023. Kondisi ini menggerus pendapatan masyarakat dan menekan daya beli konsumen secara signifikan.

Harga minyak yang tetap tinggi juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor panjang. Sementara itu, Kuba mulai kehabisan pasokan pangan dan bahan bakar.

Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini di tengah lonjakan inflasi terbaru. Krisis energi global juga menjadi latar kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China.

Donald Trump menghadiri pertemuan dua hari dengan Presiden Xi Jinping. Agenda ini menjadi kunjungan pertama pemimpin AS ke negara tersebut dalam hampir satu dekade.

Inflasi terburuk di AS dalam beberapa tahun terakhir kembali memangkas daya beli masyarakat Amerika. Kenaikan harga bensin dan bahan pangan kini mengancam belanja rumah tangga mereka.

Data yang dirilis awal pekan menunjukkan perang Iran kembali memicu inflasi. Hal ini semakin membebani konsumen yang sebelumnya sudah frustrasi dengan tingginya biaya hidup.

Setelah disesuaikan dengan inflasi, upah masyarakat turun pada April dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi penurunan pertama yang terjadi sejak 2023.

Mayoritas warga Amerika juga mengaku khawatir terhadap tingginya harga pada 2025. Selain itu, semakin banyak warga yang cemas terhadap kondisi pasar tenaga kerja menurut survei tahunan Federal Reserve.

Di tengah pertumbuhan lapangan kerja yang nyaris nol tahun lalu, sebanyak 42% orang dewasa mengkhawatirkan pekerjaan mereka. Sebanyak 42% responden menyebut mencari atau mempertahankan pekerjaan sebagai kekhawatiran kecil maupun besar, naik dari 37% pada 2024.

Gejolak Pasar Keuangan dan Suku Bunga di Eropa

Obligasi pemerintah Inggris anjlok setelah Wali Kota Manchester Andy Burnham membuka peluang untuk menantang Keir Starmer sebagai perdana menteri. Langkah ini memicu kekhawatiran ketidakstabilan politik di mata investor.

Investor khawatir situasi politik tersebut dapat berujung pada kebijakan fiskal yang lebih ekspansif. Imbal hasil obligasi gilt 30 tahun melonjak hingga 20 basis poin menjadi 5,86%, level tertinggi sejak 1998.

Tingkat pengangguran Prancis secara tak terduga naik ke level tertinggi dalam lima tahun. Data ini menambah sinyal bahwa ekonomi terbesar kedua di zona euro itu sudah berada dalam kondisi lemah ketika perang Iran dimulai.

Inggris sebenarnya memulai tahun ini dengan lonjakan pertumbuhan ekonomi. Dunia usaha dan konsumen tampak masih bertahan pada minggu-minggu awal perang Iran.

Namun, para ekonom memperingatkan bahwa pertumbuhan kini terancam oleh dampak konflik Timur Tengah yang belum berakhir. Potensi pergantian perdana menteri baru juga memperbesar risiko tersebut.

Bank Sentral Eropa diperkirakan akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini karena perang Iran mendorong inflasi lebih tinggi. Para ekonom memproyeksikan kenaikan seperempat poin pada Juni dan September mendatang.

Perkembangan Ekonomi di Asia dan Pasar Berkembang

Di pasar saham Korea Selatan yang bernilai US$4,6 triliun, tanda-tangan euforia mulai terlihat di berbagai sektor. Investor domestik meminjam dana dalam jumlah rekor untuk memperbesar taruhan mereka di pasar saham.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun naik karena tingginya harga energi menambah tekanan inflasi. Tekanan terus meningkat seiring harga minyak tetap tinggi setelah AS dan Iran saling menolak proposal damai.

Harga produsen di China tumbuh pada laju tercepat sejak pandemi empat tahun lalu karena dampak perang Iran meningkatkan biaya secara tajam. Inflasi konsumen China naik tak terduga menjadi 1,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

India mengambil langkah menaikkan tarif impor emas dan perak untuk mempertahankan nilai mata uangnya. Langkah ini dilakukan di tengah upaya memperkuat cadangan devisa dan membatasi dampak perang di Timur Tengah.

Sementara itu, Kuba berada di ambang krisis dan kemarahan publik meluas ketika negara itu mulai kehabisan pangan dan bahan bakar. Kini, bisnis-bisnis swasta kecil justru menjadi kunci untuk menyelamatkan sisa ekonomi Kuba.

Ekonomi Rusia menyusut pada kuartal pertama untuk pertama kalinya sejak awal 2023. Produk domestik bruto (PDB) Rusia tercatat turun 0,2% pada tiga bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dampak krisis energi global mulai terlihat pada indikator tekanan rantai pasok yang sempat melonjak saat pandemi. Terkait kebijakan moneter terbaru, Zambia dan Angola menurunkan suku bunga, sementara Uganda, Peru, dan Rumania mempertahankan biaya pinjaman mereka.