Perang Iran Picu Lonjakan Harga Solar dan Percepat Adopsi Truk Listrik China

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Konflik di Iran memicu lonjakan harga solar yang diprediksi akan mempercepat transisi truk berat di China menuju kendaraan listrik. Fenomena ini diperkirakan bakal mempercepat penurunan konsumsi bahan bakar fosil di negara pengimpor minyak terbesar dunia tersebut.

Dilansir dari Money, penjualan truk berat bertenaga listrik di China mengalami pertumbuhan signifikan dalam dua tahun terakhir. Kendaraan yang awalnya terbatas pada segmen tertentu kini mulai mendominasi pasar transportasi logistik.

Data dari CVWorld.cn mengungkapkan bahwa penjualan truk berat energi baru, yang didominasi mesin listrik, melonjak 45 persen secara tahunan menjadi 44.000 unit pada awal 2026. Angka ini mencakup lebih dari seperempat total penjualan truk berat baru.

Pertumbuhan sektor ini didorong oleh berbagai faktor, mulai dari subsidi pemerintah, efisiensi biaya operasional, hingga perluasan jaringan infrastruktur pengisian daya. Penjualan pada April 2026 diperkirakan tumbuh 30 persen akibat kenaikan harga minyak.

"Perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik di China, yang pasti akan mempercepat penggantian truk tradisional," kata analis senior S&P Global Mobility, Min Ji.

Min Ji juga menyatakan bahwa lembaga tersebut akan segera merevisi proyeksi penjualan truk listrik dalam waktu dekat. Saat ini, truk berat listrik di China banyak digunakan untuk rute jarak pendek sekitar 300 kilometer.

Meski demikian, inovasi teknologi terus meningkatkan kapasitas baterai kendaraan tersebut. Produsen otomotif seperti Sany bahkan telah memasarkan model truk dengan jangkauan tempuh mencapai 600 kilometer.

Elektrifikasi kendaraan penumpang dan pertumbuhan truk listrik mulai menekan permintaan diesel serta bensin di China. Perubahan ini menjadi titik balik setelah selama beberapa dekade konsumsi bahan bakar di negara tersebut terus meningkat.

Lembaga riset GL Consulting memproyeksikan konsumsi diesel China akan turun 4,3 persen tahun ini. Angka ini lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelum terjadi konflik Iran yang berada di level 4,1 persen.

Senada dengan itu, Rystad Energy memprediksi permintaan diesel turun 5 persen, atau lebih rendah 1 persen dari perkiraan semula. Penurunan tambahan ini setara dengan pengurangan sekitar 40.000 barel per hari.

Perbandingan Biaya Operasional dan Harga

Kenaikan harga eceran diesel di China mencapai 27 persen sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, yang merupakan level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini membuat biaya operasional truk diesel membengkak.

Harga truk berat listrik di China saat ini berada di atas 500.000 yuan atau sekitar Rp 1,27 miliar (kurs Rp 17.360 per dollar AS). Sebagai pembanding, truk diesel dijual mulai dari 300.000 yuan atau sekitar Rp 764 juta.

Pemerintah China terus mendukung transisi ini melalui program subsidi tukar tambah hingga akhir tahun. Insentif tersebut berhasil memangkas hampir separuh selisih harga beli antara kedua jenis kendaraan tersebut.

Berdasarkan analisis GL Consulting, total biaya kepemilikan truk listrik selama masa operasional 1 juta kilometer hanya sekitar separuh dari truk diesel. Perhitungan ini sudah mencakup biaya pembelian, energi, hingga pemeliharaan.

Ekspansi Produsen China ke Pasar Global

Keunggulan biaya operasional dan harga produksi mendorong produsen China untuk merambah pasar internasional. Sedikitnya 12 produsen China berencana masuk ke pasar Eropa pada tahun ini, termasuk merek Sany.

Harga unit truk listrik buatan China diklaim bisa sepertiga lebih murah dibandingkan harga rata-rata produk serupa di Eropa. Data Badan Energi Internasional menunjukkan penjualan truk listrik China mencapai 160.000 unit sepanjang 2024.

"Sejauh ini, mengingat kenaikan harga minyak, peluang untuk mencapai target ini semakin meningkat," ujar Wakil General Manager Sany, Chen Dong.

Chen Dong sebelumnya memprediksi pasar truk traktor listrik di China akan tumbuh 50 persen menjadi 250.000 unit pada tahun 2025.