Perempuan Muslim Bentuk Fondasi Ilmu Pengetahuan di Masa Kejayaan

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Pada abad ke-8 hingga ke-13, perempuan Muslim memainkan peran kunci dalam membangun fondasi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan layanan sosial. Dilansir dari Cahaya, mereka tidak hanya menjadi pendukung, tetapi juga penggerak, pengajar, dan peneliti di masa keemasan Islam.

Peran penting perempuan terlihat dalam pendirian lembaga pendidikan. Contohnya, Fatima al-Fihri mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko pada abad ke-9, yang diakui sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Universitas ini tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga matematika, astronomi, dan bahasa, menurut buku “Lost Islamic History” karya Firas Alkhateeb.

Sutayta al-Mahamali, seorang ahli matematika di Baghdad, menonjol dalam bidang eksakta. Dalam catatan sejarah yang dirujuk dalam “Women in Islamic Civilisation” karya Dr. Yusuf al-Qaradawi, ia mampu memecahkan masalah matematika kompleks terkait hukum waris.

Rufayda al-Aslamia dikenal sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam, merawat korban perang pada masa Rasulullah. Ia mendirikan tenda medis, cikal bakal rumah sakit lapangan. Manfred Ullmann, dalam buku “Islamic Medicine,” menyebut peran Rufayda sebagai tonggak profesionalisme medis Islam.

Lubna al-Qurtubiyyah, seorang ilmuwan di Andalusia, mengelola perpustakaan kerajaan Cordoba dan ahli matematika. Cordoba menjadi pusat ilmu pengetahuan di Eropa dengan ratusan ribu manuskrip. Jim Al-Khalili, dalam buku “The House of Wisdom,” menekankan pentingnya partisipasi perempuan dalam pengembangan ilmu.

Perempuan Muslim juga berperan sebagai guru dan perawi hadis, dengan ratusan perempuan terpercaya sebagai perawi. Fakta ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dalam Islam tidak eksklusif, sebagaimana disebutkan dalam kitab “Siyar A’lam al-Nubala” karya Imam Adz-Dzahabi.

Khadijah binti Khuwailid adalah contoh sukses sebagai pengusaha yang mengelola perdagangan, memiliki pengaruh sosial besar. Banyak perempuan juga berkontribusi dalam wakaf untuk masjid, sekolah, dan rumah sakit, membentuk sistem kesejahteraan sosial berkelanjutan, sebagaimana disampaikan dalam buku “Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources” karya Martin Lings.

Faktor yang mendukung perkembangan perempuan pada masa itu meliputi nilai agama, dukungan sosial-politik, dan budaya intelektual yang terbuka, sebagaimana dijelaskan dalam “A History of Islamic Societies” karya Ira M. Lapidus.

Meskipun terdapat perubahan dalam sejarah, peran perempuan dalam tradisi Islam tetap signifikan, yang merupakan pengingat kolaborasi ilmu, iman, serta laki-laki dan perempuan dalam peradaban, seperti yang tercermin dari tokoh seperti Fatima al-Fihri dan Rufayda al-Aslamia.