Lengan riset Fitch Solutions, BMI, memproyeksikan pertumbuhan permintaan nikel global pada tahun 2026 hanya akan mencapai kisaran 3 persen, berdasarkan laporan riset terbaru yang dirilis pada Kamis (16/4/2026). Angka tersebut menunjukkan perlambatan signifikan dibandingkan prediksi pertumbuhan permintaan tahun 2025 yang berada di level 5,8 persen.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, penurunan ini dipicu oleh meningkatnya penggunaan baterai kendaraan listrik non-nikel, khususnya jenis lithium ferro phosphate (LFP). Baterai LFP dinilai lebih kompetitif bagi produsen karena memiliki biaya produksi yang lebih rendah serta siklus hidup yang cenderung lebih panjang.
Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan dominasi LFP yang menguat dengan pangsa pasar global mencapai 50 persen pada 2024, naik dari 38 persen pada 2022. Sebaliknya, pangsa pasar baterai berbasis nikel di tingkat global merosot menjadi 46 persen dari sebelumnya 54 persen pada periode yang sama.
"Pergeseran komposisi ini kemungkinan akan menjaga sentimen pasar tetap lesu dan menahan pertumbuhan permintaan nikel meskipun ada dorongan makroekonomi yang lebih luas," tulis BMI dalam laporannya. Kondisi keuangan yang ketat serta perlambatan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah turut menjadi faktor penekan konsumsi.
Meskipun permintaan melambat, BMI merevisi naik proyeksi harga rata-rata nikel dunia untuk tahun 2026 dari US$15.800 menjadi US$16.600 per ton. Kenaikan ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang memberikan dampak berlapis pada rantai pasok logam global.
Surplus nikel di pasar internasional diperkirakan membengkak menjadi 324.000 ton pada tahun ini seiring langkah Indonesia memperluas kapasitas smelter. Ekspansi produksi dari Indonesia diprediksi tumbuh 9,8 persen, yang akan berperan sebagai penopang batas bawah harga agar tidak merosot tajam seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sektor energi bersih dan industri baja nirkarat diprediksi tetap menjadi pilar utama permintaan nikel di pasar Uni Eropa, Amerika Serikat, India, dan Indonesia. Namun, BMI memperingatkan risiko revisi ke bawah tetap terbuka jika eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi yang mengganggu stabilitas pasar global.
Pada perdagangan Kamis (16/4/2026), nikel di London Metal Exchange (LME) tercatat berada di posisi US$18.133 per ton. Harga tersebut mengalami penurunan tipis sebesar 0,4 persen dibandingkan hari sebelumnya, jauh di bawah rekor tertinggi di atas US$100.000 yang sempat terjadi pada Maret 2022.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·