Perpustakaan MPR RI bekerja sama dengan Terramori menyelenggarakan kegiatan Literasi Kreatif bertajuk 'Terrarium: Pohon Sukun, Pengasingan, dan Benih Pancasila' di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (14/5/2026). Acara ini bertujuan menguatkan semangat literasi sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui seni menata tanaman.
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, inisiatif ini merupakan implementasi Peraturan Perpustakaan Nasional RI Nomor 4 Tahun 2023 yang memfungsikan perpustakaan sebagai wadah pemberdayaan masyarakat. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, mengapresiasi keterlibatan peserta dari berbagai lintas generasi dalam workshop tersebut.
Siti Fauziah menilai literasi kreatif bukan sekadar kegiatan seni, melainkan media efektif untuk menanamkan karakter dalam kehidupan profesional. Ia secara khusus menyoroti keberagaman latar belakang peserta yang hadir dalam pelatihan pembuatan ekosistem miniatur di dalam botol tersebut.
"Saya senang karena kegiatan seperti ini biasanya didominasi peserta perempuan, tetapi hari ini alhamdulillah ada peserta laki-laki juga dan generasinya cukup berimbang. Artinya kegiatan ini bisa diterima oleh semua kalangan," ujar Siti, dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).
Pemilihan tema pohon sukun dalam pembuatan terrarium didasari pada nilai sejarah perenungan Bung Karno selama masa pengasingan di Ende, NTT. Siti menegaskan bahwa pohon tersebut menjadi simbol ketabahan dan titik awal lahirnya ideologi negara.
"Pohon sukun bukan sekadar tanaman pangan. Ia adalah jejak hidup yang mencatat ketabahan, kesederhanaan, dan daya cipta," jelas Siti.
Filosofi yang terkandung dalam setiap elemen tanaman dianggap sejalan dengan prinsip kerja di lingkungan organisasi. Penataan lapisan batu dan tanah memerlukan kedisiplinan serta imajinasi untuk menghasilkan karya yang harmonis.
"Di bawah pohon sukun itulah Pancasila mulai menemukan bentuknya," sambungnya.
Siti menambahkan bahwa tantangan dalam menyusun komponen terrarium memberikan pelajaran mengenai fleksibilitas dalam menghadapi hambatan pekerjaan. Hal ini menuntut individu untuk mencari solusi kreatif tanpa memaksakan kehendak pribadi.
"Dalam membuat terrarium ini ada aturan, ada tahapan, ada kesabaran, dan ada ketelitian. Semua unsur itu sebenarnya dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari," ungkap Siti.
Proses meletakkan material ke dalam wadah kaca transparan juga disebutnya sebagai cermin dinamika organisasi. Kadang kala, material yang digunakan tidak langsung tertata sesuai dengan rencana awal pembuatnya.
"Saya ingin membuat susunan batu seperti tangga, tetapi batunya tidak selalu nurut. Dari situ kita belajar bahwa dalam pekerjaan juga ada tantangan," tutur Siti.
Selain aspek edukasi dan ideologi, kegiatan ini berfungsi sebagai sarana relaksasi bagi para pegawai di tengah kepadatan tugas administrasi negara. Siti berharap sesi ini mampu memicu semangat baru bagi seluruh jajaran Sekretariat Jenderal MPR RI.
"Kita tidak bisa memaksakan kehendak, tetapi harus mencari cara agar semuanya bisa tersusun dengan baik," sambungnya.
Kegiatan yang dipandu oleh Founder Terramori, Valentino Putra Budiman, ini juga dirasakan manfaatnya oleh para peserta sebagai sarana penyegaran mental. Meluangkan waktu untuk berinteraksi di luar forum rapat formal dinilai efektif membangun kebersamaan antarunit kerja.
"Kegiatan seperti ini bisa menjadi penyegar di tengah kepenatan bekerja. Dengan meluangkan waktu sejenak, kita bisa membangun semangat baru untuk kembali menjalankan tugas," kata Siti.
Seorang peserta bernama Vidya Palupi membagikan pengalamannya saat menghadapi kesulitan teknis dalam menata tanaman kecil dan lumut. Ia menyadari bahwa hasil estetis yang sering terlihat di media sosial membutuhkan ketelatenan tinggi saat dipraktikkan.
"Awalnya saya pikir terrarium itu tinggal pasang-pasang aja. Ternyata waktu praktik tidak semudah kelihatannya," ujar Vidya.
Vidya mengungkapkan bahwa kegiatan literasi kreatif ini memberikan suasana yang jauh lebih santai dibandingkan pertemuan kedinasan rutin. Ia berharap program serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mengasah kreativitas pegawai.
"Kreativitas kita benar-benar diuji karena hasilnya tidak selalu langsung secantik yang ada di media sosial," sambungnya.
Pelatihan ini turut dihadiri oleh pejabat teras MPR RI, termasuk Deputi Bidang Administrasi Heri Herawan dan Pustakawan Ahli Madya Yusniar. Seluruh peserta mendapatkan bimbingan teknis mengenai cara menjaga ekosistem mandiri dalam kaca agar tetap hidup dalam jangka panjang.
"Ini jadi ajang healing sekaligus bisa berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman dari unit lain dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan, bukan dalam forum rapat. Kegiatan ini juga sesuai dengan namanya, menambah kreativitas kami," ungkap Vidya.
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·