Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/4/2026), menemui kegagalan. Kedua negara saling menyalahkan atas tidak tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung selama enam minggu, yang diawali serangan AS dan Israel terhadap Iran. Dilansir dari Detikcom, pertemuan tersebut menjadi perundingan tatap muka pertama antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade.
Pejabat AS menyatakan bahwa kegagalan perundingan disebabkan oleh ketidakseriusan Iran dalam meninggalkan program nuklirnya. Di sisi lain, Iran menuding Washington sebagai penyebab utama kegagalan tersebut. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa pihaknya membutuhkan komitmen tegas dari Iran terkait penghentian program nuklir dan upaya untuk segera memiliki senjata nuklir.
Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, menanggapi dengan menyatakan bahwa tanggung jawab kini berada di tangan Washington. Ia menambahkan bahwa sudah saatnya AS membuktikan kepercayaan terhadap Iran.
Pertemuan di Islamabad merupakan kelanjutan dari gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Media Iran melaporkan bahwa tuntutan AS yang dianggap berlebihan menjadi hambatan utama dalam perundingan. Sementara itu, media lain menyebutkan adanya kesepakatan pada beberapa isu, namun perbedaan mendalam masih terjadi terkait program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade selat tersebut setelah perundingan menemui jalan buntu.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebutkan bahwa suasana perundingan diwarnai ketidakpercayaan. Ia juga menilai bahwa pencapaian kesepakatan hanya dalam satu pertemuan adalah hal yang tidak realistis.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mendesak kedua belah pihak untuk tetap mempertahankan gencatan senjata yang disepakati pada Selasa (7/4). Ia menekankan bahwa hal tersebut sangat penting untuk upaya perdamaian yang berkelanjutan. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan bahwa pihaknya menawarkan metode pemahaman sebagai tawaran final. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut apakah Iran akan menerima tawaran tersebut.
Fatemeh Aman dari Atlantic Council mengemukakan bahwa perbedaan mendasar antara kedua belah pihak terletak pada sifat struktural, bukan hanya taktik. AS menginginkan pembatasan program nuklir Iran, deeskalasi regional, dan keamanan jalur pelayaran. Sementara itu, Iran menuntut pencabutan sanksi, pengakuan, dan perlindungan.
Farwa Aamer dari Asia Society Policy Institute di New York, juga menambahkan bahwa kedua belah pihak memiliki pendekatan yang berbeda terkait langkah ke depan, baik dalam hal nuklir maupun Selat Hormuz. Aman menegaskan bahwa kegagalan perundingan disebabkan oleh tujuan akhir kedua pihak yang tidak sejalan.
Para analis memberikan pandangan optimis bahwa gencatan senjata akan tetap bertahan, dengan diplomasi jalur belakang berpotensi menjaga kesepakatan. Fatemeh Aman menilai gencatan senjata ini rapuh, tidak didasarkan pada kesepakatan politik, melainkan jeda sementara yang dibentuk oleh kehati-hatian. Namun, ia juga mengingatkan bahwa insiden lokal atau aksi kelompok sekutu dapat menguji batas penahanan diri, sehingga tanpa tindak lanjut diplomatik, gencatan senjata tetap rentan.
Farwa Aamer menggarisbawahi pentingnya mempertahankan gencatan senjata dan melanjutkan proses diplomatik. Vance tidak memberikan penjelasan mengenai kelanjutan setelah gencatan senjata berakhir, namun para analis memperkirakan bahwa perundingan langsung dalam waktu dekat kecil kemungkinannya.
Terlepas dari itu, Farwa Aamer tetap optimis bahwa diplomasi senyap dan mediasi akan terus berperan dalam membuka jalan bagi putaran berikutnya, yang sangat bergantung pada langkah selanjutnya yang diambil oleh Amerika Serikat dan Iran.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·