Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan total outstanding pinjaman online di Indonesia menembus angka Rp100 triliun pada Februari 2026. Pertumbuhan ini mencapai lebih dari 25 persen secara tahunan akibat pergeseran gaya hidup konsumtif masyarakat perkotaan.
Sebagaimana dilansir dari Money, tren peningkatan utang ini tidak hanya terjadi pada platform pinjaman digital, tetapi juga merambah ke penggunaan kartu kredit dan layanan buy now pay later (BNPL). Pertumbuhan tercepat justru didominasi oleh utang jangka pendek dengan bunga tinggi.
Ekonom INDEF, Tauhid Ahmad, menyoroti risiko dari penggunaan dana pinjaman yang mayoritas tidak dialokasikan untuk kegiatan produktif. Menurutnya, kondisi ini menciptakan siklus utang yang menjebak pendapatan pekerja untuk sekadar membayar bunga dan cicilan.
"Bahaya pinjaman online karena sebagian besar digunakan untuk konsumsi, bukan kegiatan produktif. Akhirnya, orang terjebak dalam siklus: gajian untuk bayar utang, lalu berutang lagi," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom INDEF, dalam keterangannya.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, juga memperingatkan adanya ancaman fenomena shrinking middle class atau penyusutan jumlah kelas menengah. Hal ini dipicu oleh akumulasi utang konsumtif di tengah pendapatan yang tidak bergerak dan kenaikan biaya hidup.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menegaskan bahwa literasi keuangan memiliki kaitan erat dengan perilaku pengambilan keputusan individu. Tanpa pemahaman memadai, masyarakat rentan terjebak dalam produk keuangan yang merugikan stabilitas rumah tangga.
Saat ini, rasio utang rumah tangga Indonesia berada pada level moderat yakni sekitar 15 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, komposisi utang yang didominasi sektor konsumtif menjadi titik rapuh yang memicu tekanan psikologis bagi masyarakat urban.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·