PLN Butuh 15 Jam Pulihkan Listrik Padam di Sumatera

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemulihan pembangkit listrik yang padam di wilayah Sumatera memerlukan waktu berkisar antara 5 hingga 15 jam oleh PT PLN (Persero). Gangguan masal ini dipicu oleh kerusakan pada jalur transmisi di wilayah Jambi yang terjadi sejak Jumat (22/5/2026) pukul 18.44 WIB, sebagaimana dilansir dari Money.

Kerusakan transmisi tersebut memicu efek domino yang memutus jaringan listrik. Akibatnya, sejumlah daerah mengalami kelebihan pasokan yang berujung pada kenaikan frekuensi serta tegangan listrik secara mendadak.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa durasi pemulihan bervariasi tergantung pada jenis pembangkit yang terdampak. Proses penanganan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Hydro (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dapat berjalan lebih dinamis dibandingkan jenis lainnya.

“Dalam hal ini adalah berkisar antara 5 sampai 15 jam,” kata Darmawan dalam konferensi pers sebagaimana dikutip dari YouTube Kompas TV, Sabtu (23/5/2026).

Pihak manajemen menambahkan bahwa kendala terbesar ditemukan pada operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara. Petugas di lapangan membutuhkan durasi ekstra untuk melakukan pemanasan air dan pengaktifan unit secara bertahap.

“Kemudian harus kami sambungkan dan kami sinkronkan, dan ini membutuhkan waktu,” ujar Darmawan.

Saat ini seluruh sumber daya telah dikerahkan guna menstabilkan kembali pasokan arus ke wilayah terdampak. Langkah sistematis pada PLTA dan PLTG telah membuahkan hasil dengan munculnya titik-titik aliran listrik baru di beberapa zona geografis Sumatera.

“Sebagian sistem di Sumatera bagian selatan, Sumatera bagian tengah, Sumatera bagian utara, baik Sumatera Utara maupun Aceh, mulai dari tadinya padam total, mulai muncul titik-titik di mana listrik sudah mulai menyala,” ucap Darmawan.

Meskipun beberapa wilayah mulai teraliri arus listrik, pemulihan menyeluruh masih tertahan oleh kesiapan operasional sektor PLTU batubara. Sinkronisasi final pada sistem ketenagalistrikan interkoneksi Sumatera terus diupayakan agar kembali normal sepenuhnya.

“Kami masih membutuhkan waktu untuk memulihkan agar seluruh pembangkit bisa menyala, bisa menyambung, dan bisa sinkron dengan sistem ketenagalistrikan di Sumatera bagian selatan, tengah, maupun Sumatera bagian utara,” tuturnya.

Teknologi otomatisasi pada sistem pengamanan internal sebenarnya langsung aktif saat anomali tegangan terjadi. Sistem pengamanan tersebut membuat unit pembangkit langsung mematikan diri secara mandiri guna mencegah kerusakan perangkat yang lebih fatal.

“Pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem, atau kalau dalam istilahnya di dari publik adalah pembangkitnya secara otomatis padam,” tutur Darmawan.