Wasior (ANTARA) - Kepolisian Daerah Papua Barat mengenalkan simulasi Sistem Pengamanan Kota (Sispamkota) untuk meningkatkan kesiapsiagaan personel dalam menangani aksi demonstrasi anarkis sehingga potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) bisa dicegah.
Plt Kepala Bidang Humas Polda Papua Barat Kombes Pol Gadug Kurniawan di Manokwari, Kamis, mengatakan simulasi tersebut merupakan bagian dari upaya Polri meningkatkan profesionalitas personel menghadapi dinamika lapangan, khususnya penanganan aksi unjuk rasa sehingga tidak menimbulkan gangguan kamtibmas.
“Kesiapan personel menghadapi berbagai situasi, termasuk unjuk rasa yang dapat berkembang menjadi anarkis. Setiap penanganan, kami mengedepankan pendekatan humanis, profesional dan sesuai ketentuan hukum,” ujarnya.
Ia menjelaskan, simulasi yang digelar pada Kamis ini turut disaksikan langsung oleh Kepala Polda Papua Barat Irjen Pol Alfred Papare bersama para pejabat utama sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas personel.
Rangkaian simulasi diawali dengan skenario adanya informasi intelijen terkait rencana aksi unjuk rasa oleh sekelompok massa di pusat pemerintahan, yang kemudian ditindaklanjuti dengan rapat koordinasi untuk menentukan langkah pengamanan.
Baca juga: Polresta kerahkan 300 personel antisipasi demo anarkis di Manokwari
Pada tahap awal, kata dia, personel Dalmas dikerahkan untuk melakukan pengamanan secara humanis melalui pendekatan persuasif, termasuk komunikasi antara negosiator kepolisian dengan koordinator lapangan aksi guna menjaga situasi tetap kondusif.
Namun, seiring perkembangan situasi, massa aksi dalam simulasi digambarkan mulai memanas dengan melakukan dorongan terhadap petugas dan berupaya menerobos barikade, sehingga komandan lapangan meningkatkan status pengamanan.
“Jadi, kalau situasi berubah atau semakin tegang, maka Dalmas dikerahkan terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika situasi semakin tidak terkendali dan massa mulai bertindak anarkis, personel melakukan tindakan tegas dan terukur sesuai prosedur tetap dengan menggunakan perlengkapan pengendalian massa, seperti tameng, helm, tongkat, serta kendaraan taktis.
Simulasi diakhiri dengan konsolidasi pasukan dan evaluasi oleh pimpinan operasi yang menekankan pentingnya sinergi antarfungsi, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), serta menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia.
Baca juga: Kapolda Papua: Enam pendemo alami luka tembak dalam aksi anarkis
“Selanjutnya dilakukan penyekatan dan pembubaran massa secara bertahap, termasuk pengamanan terhadap provokator serta pemberian pertolongan oleh tim kesehatan kepada korban luka, baik dari masyarakat maupun petugas,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa sinergi antara kepolisian, instansi terkait dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di Papua Barat.
Melalui simulasi tersebut, diharapkan seluruh personel Polda Papua Barat dapat memahami peran dan tanggung jawab masing-masing serta mampu bertindak cepat, tepat, dan profesional dalam menghadapi potensi gangguan keamanan di lapangan.
Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·