Presiden Prabowo Subianto berhasil mengumpulkan komitmen Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 90 miliar dolar AS setelah menyelesaikan rangkaian kunjungan kenegaraan ke Rusia dan Perancis pada April 2026. Langkah diplomasi maraton ini bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan krisis energi global dan pelemahan nilai tukar Rupiah.
Berdasarkan data yang dilansir dari Money, total komitmen tersebut berasal dari berbagai negara mitra strategis sejak pelantikan presiden pada Oktober 2024. Amerika Serikat menjadi penyumbang komitmen terbesar senilai 38,4 miliar dolar AS melalui 11 Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di Washington D.C. pada Februari 2026.
Selain Amerika Serikat, Jepang memberikan janji investasi sebesar 23,63 miliar dolar AS, diikuti oleh Tiongkok senilai 10,07 miliar dolar AS. Korea Selatan dan Inggris juga memberikan kontribusi masing-masing sebesar 10,2 miliar dolar AS dan 8,5 miliar dolar AS untuk pengembangan berbagai sektor industri di Indonesia.
Urgensi perburuan modal asing ini meningkat menyusul blokade Selat Hormuz pada Februari 2026 yang memicu gangguan pasokan minyak dunia. Kondisi tersebut sempat menekan nilai tukar Rupiah hingga menyentuh level Rp 17.159 per dolar AS, sehingga pemerintah mempercepat diplomasi untuk menjaga kepercayaan investor global.
Meskipun angka komitmen mencapai nilai fantastis, realisasi investasi sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp 1.931,2 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Porsi PMA menyumbang sekitar Rp 900,9 triliun, dengan sektor hilirisasi nikel dan petrokimia menjadi motor utama pertumbuhan yang mencapai 43,3 persen.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat laju pertumbuhan investasi melambat menjadi 7 persen pada kuartal pertama 2026 akibat ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. Para investor sektor teknologi tinggi dari Barat dilaporkan masih cenderung bersikap menunggu sebelum merealisasikan ekspansi modal mereka di tanah air.
Di sisi lain, diplomasi ekonomi ini juga dibarengi dengan pengeluaran negara untuk penguatan pertahanan dan energi. Indonesia telah menyepakati kontrak jet tempur Rafale dari Perancis senilai 8,1 miliar dolar AS serta pengadaan alutsista lainnya untuk modernisasi postur pertahanan nasional.
Pemerintah memproyeksikan sekitar 55 hingga 60 persen dari total komitmen investasi asing tersebut dapat terealisasi secara fisik pada akhir 2029. Peran lembaga Danantara yang aktif sejak awal 2026 diharapkan mampu menjadi penjamin bagi investor asing melalui skema pembagian risiko yang lebih terukur.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·