Prancis siapkan misi perlindungan untuk pelayaran di Selat Hormuz

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Istanbul (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot, Jumat (1/5) mengatakan bahwa misi maritim internasional yang bersifat memberikan perlindungan dan tidak menyerang di Selat Hormuz akan mulai beroperasi setelah kondisi memungkinkan.

“Blokade Hormuz harus dihentikan, harus diakhiri. Tidak boleh ada pemerasan, tidak boleh ada blokade, maupun pungutan di sebuah selat,” kata Barrot, seraya menegaskan bahwa selat diatur oleh hukum internasional dan “dalam keadaan apa pun tidak boleh dihalangi.”

Ia menyebut kenaikan harga bahan bakar yang “sangat terasa di tingkat konsumen” berkaitan dengan perkembangan di Selat Hormuz, yang menurutnya telah dikecam Prancis karena melanggar hukum internasional dan berdampak besar terhadap perekonomian global.

Barrot menambahkan bahwa sejak awal krisis, Prancis telah mengambil langkah untuk membatasi dampaknya, termasuk kebijakan melindungi rumah tangga dan pelaku usaha dari kenaikan biaya energi.

Ia mengatakan dukungan yang ditargetkan telah diberikan kepada sektor-sektor yang paling terdampak kenaikan harga bahan bakar, termasuk perikanan, pertanian, transportasi, dan pengguna jalan berat, guna membantu mereka menyerap sebagian guncangan.

Pada saat yang sama, ia menambahkan, Prancis meluncurkan rencana untuk mengurangi ketergantungan pada hidrokarbon melalui upaya elektrifikasi di sektor transportasi dan pemanas, yang bertujuan membatasi dampak krisis di masa depan.

Misi yang murni defensif

Barrot juga mengatakan bahwa Prancis telah mengerahkan aset angkatan laut di kawasan sejak awal konflik “untuk melindungi warga negara kami, memfasilitasi repatriasi mereka, dan melindungi mitra kami,” yang sebagian di antaranya menjadi sasaran serangan Iran.

Ia menyatakan bahwa misi internasional yang diluncurkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron kini telah memasuki tahap lanjut dan akan bersifat sepenuhnya defensif, serta beroperasi dengan koordinasi bersama negara-negara di sekitar Selat Hormuz.

“Misi internasional ini bersifat murni perlindungan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perencanaan telah dirampungkan dan konsepnya telah dipaparkan kepada mitra utama di kawasan.

Barrot mengatakan tujuan utama misi tersebut adalah memungkinkan lalu lintas maritim kembali berjalan “secepat mungkin” ketika kondisi memungkinkan, melalui operasi pengawalan dan pembersihan ranjau.

Tidak akan berpartisipasi dalam operasi yang dipimpin AS

Terkait kemungkinan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat, Barrot menegaskan bahwa Prancis tidak akan berpartisipasi, dengan menyebut inisiatif AS tampaknya bertujuan mengaitkan operasi militer yang sedang berlangsung dengan aktivitas pelayaran.

“Kami tidak akan ikut serta,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Prancis tetap fokus pada inisiatifnya sendiri dan tidak berada dalam posisi bersaing dengan usulan lain.

Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu balasan dari Teheran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk serta penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, diikuti pembicaraan di Islamabad pada 11 hingga 12 April, namun belum menghasilkan kesepakatan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tersebut secara sepihak tanpa menetapkan batas waktu baru, atas permintaan Pakistan.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Prancis perkirakan krisis Iran rugikan ekonomi hingga 6 miliar euro

Baca juga: Inggris, Prancis akan pimpin misi internasional amankan Selat Hormuz

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.