Presiden Iran: Siapa Trump Bisa Cabut Hak Nuklir Kami?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara selama Debat Umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di markas besar PBB di Kota New York pada 24 September 2025. Foto: Angela Weiss/AFP

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Amerika Serikat (AS) tidak punya hak mencabut akses negaranya terhadap program nuklir di tengah negosiasi yang masih buntu.

Pernyataan ini dilaporkan pertama kali oleh media Iran ISNA, saat ketegangan Iran-AS kembali meningkat, terutama terkait tuntutan Washington soal pembatasan program nuklir Teheran.

Pezeshkian mempertanyakan langsung sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak berdasar.

"Trump mengatakan Iran tidak boleh menggunakan hak nuklirnya, tapi tidak menjelaskan atas kejahatan apa. Siapa dia sampai bisa mencabut hak suatu bangsa?" ujar Pezeshkian, dikutip dari Reuters.

Ia menegaskan program nuklir Iran merupakan hak yang sah dan tidak bisa diintervensi pihak luar.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Teheran yang menolak tekanan AS dalam perundingan yang masih berlangsung.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memastikan Iran tidak akan menyerahkan cadangan uranium yang dimilikinya.

"Saya ingin menegaskan bahwa uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun," kata Baghaei dalam wawancara yang dibagikan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (18/4).

Ia juga menyebut klaim soal pertukaran uranium dengan imbalan tertentu tidak bisa diverifikasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei memberikan keterangan pers di Kementerian Luar Negeri di ibu kota Teheran, pada 10 Februari 2026. Foto: ATTA KENARE / AFP

"Terkait klaim yang disampaikan (oleh Trump), tidak ada satu pun yang dapat diverifikasi," lanjutnya.

Diberitakan sebelumnya, Trump mengklaim Iran telah menyetujui berbagai tuntutan Washington, termasuk soal nuklir. Menurutnya, Iran akan memberikan semua "debu nuklir" untuk AS tanpa biaya.

Situasi ini juga berkaitan dengan kebijakan blokade laut AS terhadap Iran yang memicu Selat Hormuz kembali ditutup, kurang dari 24 jam setelah Iran membuka jalur vital itu.

Iran bahkan memperingatkan akan mengambil langkah lanjutan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut jika tekanan terus berlanjut.