Presiden Prabowo Subianto Meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk

Sedang Trending 42 menit yang lalu

Presiden Prabowo Subianto menghadiri peresmian Museum Ibu Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026). Fasilitas baru tersebut didirikan sebagai lambang sekaligus simbol keberanian kaum buruh dalam memperjuangkan hak-hak mereka, seperti dilansir dari Detikcom.

Kehadiran kepala negara dalam acara peresmian ini dinilai menjadi momentum yang langka. Pihaknya menyatakan kemungkinan belum ada museum yang didedikasikan khusus untuk kaum buruh di belahan dunia lain saat ini.

"Kita dapat berkumpul pada pagi hari ini di Kabupaten Nganjuk untuk melaksanakan peresmian sebuah museum yang didedikasikan untuk mengingat perjuangan buruh," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Penegasan mengenai keunikan museum ini kembali disampaikan oleh kepala negara. Beliau meminta agar keberadaan museum buruh sejenis di tingkat global turut diverifikasi kembali.

"Ini adalah, saya kira, mungkin peristiwa yang langka. Mungkin di seluruh (dunia) luar biasa. Jadi rupanya, mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh. Tapi tolong dicek, ya. Mungkin pasti adalah, tapi kita ini peristiwa langka," sambung Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Fungsi dari bangunan bersejarah ini tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan dokumentasi masa lalu. Tempat ini menjadi tonggak pengingat atas keteguhan seorang aktivis perempuan dalam menyuarakan hak pekerja.

"Saya kira museum ini didirikan sebagai lambang, sebagai simbol, dan sebagai tonggak peringatan untuk memperingati keberanian seorang pejuang, seorang pejuang muda, seorang pejuang perempuan, yang berjuang untuk hak-hak kaum buruh," ujarnya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Menurut presiden, dedikasi yang ditunjukkan oleh figur Marsinah menjadi representasi dari pergerakan kelompok masyarakat yang lemah. Hal ini mencakup warga miskin serta pihak-pihak yang tidak memiliki akses terhadap kekuatan politik.

"Perjuangan tersebut adalah lambang dari perjuangan semua mereka-mereka yang berada di pihak yang lemah, orang-orang miskin, orang-orang yang tidak punya kekuasaan, orang-orang yang tidak punya kekuatan," katanya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, presiden juga menyinggung akhir tragis kehidupan sang aktivis yang tewas saat mengadvokasi para pekerja pabrik. Kasus pembunuhan keji itu dipandang sebagai sejarah kelam yang semestinya bisa dihindari.

"Sesungguhnya, peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh pabrik suatu perusahaan, sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi," tutur Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Pancasila sebagai falsafah dasar negara ditegaskan menjadi fondasi utama yang menyatukan bangsa Indonesia. Konsensus nasional yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tersebut menjadi landasan agar kejadian serupa tidak terulang.

"Karena negara kita, kita dirikan dengan falsafah dasar Pancasila. Itu adalah kecemerlangan pendiri bangsa kita dan itu tertera dalam Undang-Undang Dasar kita, dalam pembukaannya, dan itu adalah konsensus, kesepakatan. Kita bisa bersatu antara lain karena Pancasila," imbuh Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.