Psikiater: Stigma patriarki bikin korban kekerasan seksual pilih diam

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) -

Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ mengatakan stigma patriarki masih menjadi faktor kuat yang membuat korban kekerasan seksual enggan berbicara, bahkan tekanan sosial dan budaya yang menyalahkan korban dinilai memperparah beban psikologis yang sudah dialami perempuan.

Elvine mengatakan dalam masyarakat yang masih kental dengan budaya patriarki, perempuan kerap merasa berada di posisi yang lebih rendah sehingga ragu menyuarakan haknya.

“Sering sekali stigma patriarki membuat kita merasa seperti warga kelas dua. Ketika perempuan ingin menyuarakan haknya, itu bagian dari proses perjuangan,” kata Elvine dalam diskusi di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak pada keberanian korban kekerasan seksual untuk melapor. Kuatnya stigma sosial membuat korban khawatir akan penilaian negatif dari lingkungan.

“Kenapa korban akhirnya diam? Karena sosial stigma kita kuat. Kadang sebagai korban justru dijudge seperti pelaku,” ujarnya.

Baca juga: Memahami consent untuk membangun ruang aman

Data Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2025 menunjukkan terdapat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan yang tercatat sepanjang tahun tersebut.

Dari jumlah itu, kekerasan seksual menjadi salah satu bentuk yang paling banyak diadukan dengan porsi 37,51 persen dari total pengaduan terverifikasi, baik terjadi di ranah personal maupun publik. Namun angka tersebut diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena banyak korban memilih tidak melapor akibat stigma dan tekanan sosial.

Menurut Elvine, respons lingkungan yang menghakimi dapat memunculkan self stigma. Korban dapat menyerap penilaian negatif dan mulai menyalahkan diri sendiri atas peristiwa yang dialaminya. Kondisi ini berisiko memicu gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma berkepanjangan.

Ia menilai, perubahan cara pandang masyarakat menjadi langkah penting dalam perlindungan perempuan. Edukasi tentang consent, empati, dan dukungan psikologis perlu diperkuat sejak dini.

Elvine menambahkan, perlindungan perempuan tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada terciptanya ruang aman yang tidak menghakimi. Lingkungan yang suportif akan mendorong korban kekerasan seksual lebih berani berbicara dan mengakses dukungan medis maupun psikologis.

Baca juga: Masyarakat diminta tidak wajarkan pelecehan berbalut candaan

Baca juga: Usia yang tepat untuk diberi edukasi seks menurut HIMPSI

Baca juga: Keluarga diminta beri edukasi seks pada anak cegah kekerasan seksual

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.