Raja Charles III Temui Donald Trump Perkuat Aliansi Inggris&AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Raja Charles III melakukan kunjungan kenegaraan selama empat hari di Amerika Serikat sejak Senin (27/04) untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan AS dari Inggris sekaligus memperkuat hubungan bilateral. Dilansir dari Detikcom, penguasa Inggris tersebut didampingi Ratu Camilla saat bertemu Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump di Gedung Putih.

Pertemuan ini menjadi momen krusial untuk menegaskan kembali kedekatan kedua negara yang sempat diwarnai ketegangan diplomatik. Setelah agenda di Gedung Putih, pasangan kerajaan melanjutkan dialog dengan anggota kabinet Amerika Serikat serta tamu undangan di Kedutaan Besar Inggris yang berlokasi di Washington.

Presiden Donald Trump menyoroti kedekatan historis antara kedua bangsa dalam rangkaian penyambutan resmi tersebut. Ia memberikan penegasan bahwa kemitraan ini merupakan salah satu yang paling erat di dunia internasional.

"Dalam berabad-abad sejak kami merdeka, Amerika tidak memiliki sahabat yang lebih dekat daripada Inggris," kata Trump.

Presiden Trump kemudian menekankan harapannya agar kerja sama strategis ini tetap bertahan secara berkelanjutan di masa depan. Ia menepis isu ketidakharmonisan yang sempat mencuat sebelumnya terkait isu militer.

"Ia menambahkan kedua negara memiliki "hubungan spesial, dan berharap akan selalu demikian."" kata Trump.

Sebelumnya, Trump pernah memberikan kritik keras terhadap kebijakan Inggris di Selat Hormuz. Meski demikian, ia kini memberikan pujian terhadap sinergi militer kedua negara di kancah global.

"Tidak ada yang bertempur bersama sebaik Amerika Serikat dan Inggris," kata Trump.

Di sisi lain, Raja Charles III menyampaikan pidato di hadapan Kongres yang menyerukan pembaharuan komitmen terhadap hubungan jangka panjang. Ia memaparkan besarnya skala kolaborasi pertahanan yang sedang berlangsung saat ini.

"Hari ini, ribuan personel militer AS, petugas pertahanan, dan keluarga mereka ditempatkan di Inggris. Sementara personel Inggris bertugas dengan kebanggaan yang sama di 30 negara bagian Amerika," ujar Charles.

Raja Charles juga menyinggung kemitraan teknologi militer tingkat tinggi yang mencakup pembuatan jet tempur hingga kesepakatan kapal selam nuklir. Proyek tersebut dipandang sebagai fondasi keamanan bersama.

"Kami membangun F-35 bersama, dan telah menyepakati program kapal selam paling ambisius dalam sejarah: AUKUS." ujar Charles.

Menghadapi tantangan global saat ini, Raja Charles memperingatkan agar kedua negara tidak mundur dari aliansi yang telah dibangun selama berabad-abad. Ia mengenang bagaimana persahabatan tersebut lahir dari sejarah yang kompleks.

"Dari perpecahan pahit 250 tahun lalu, kita membangun persahabatan yang berkembang menjadi salah satu aliansi paling berpengaruh dalam sejarah manusia," tambah Charles.

Ia juga menyampaikan harapan mendalam agar aliansi ini terus menjunjung tinggi nilai-nilai kemitraan global. Hal ini termasuk menjaga hubungan baik dengan kawasan Eropa dan negara-negara Persemakmuran.

"Saya berdoa sepenuh hati agar aliansi kita terus mempertahankan nilai-nilai kemitraan kita. Juga dengan Eropa dan Persemakmuran di seluruh dunia. Mari kita mengabaikan usulan untuk menutup diri." tambah Charles.

Dalam kesempatan tersebut, sang Raja turut memberikan perhatian pada situasi keamanan di Eropa Timur. Ia menekankan perlunya penyelesaian konflik yang memberikan keadilan jangka panjang bagi Ukraina.

"Charles juga menyinggung Ukraina. Ia meminta "perdamaian yang benar-benar adil dan berkelanjutan."" kata Charles.

Isu keamanan regional lainnya juga menjadi topik bahasan utama antara sang raja dan Presiden Trump. Trump mengeklaim adanya kesamaan pandangan mengenai ambisi militer dan nuklir Iran.

"Charles bahkan lebih sepakat dengan saya. Kami tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Selain masalah keamanan, Raja Charles memanfaatkan pidatonya untuk menyuarakan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup. Menurutnya, perlindungan alam bukan sekadar isu ekologi, melainkan fondasi bagi ekonomi dan keamanan nasional.

"Di tengah keindahan alam yang bisa dirasakan, generasi kita harus memutuskan bagaimana kita menghadapi kerusakan alam, yang dampaknya jauh lebih besar dari sekadar keseimbangan dan keberagaman hayati," kata Charles.

Ia memperingatkan bahwa selama ini masyarakat cenderung menyepelekan kekayaan alam. Padahal, alam merupakan aset yang paling berharga dan tidak mungkin bisa digantikan oleh apa pun.

"Kita kerap mengabaikan alam. Padahal, ekonomi alam merupakan fondasi bagi kemakmuran dan keamanan nasional kita." kata Charles.

Menutup rangkaian pidatonya, Raja Charles menyinggung peran penting iman Kristen dan dialog antaragama dalam menciptakan toleransi. Pernyataan ini disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin di Kongres.

"Dari pengalaman hubungan antaragama dan pemahaman luas lainnya, saya menemukan bahwa iman akan selalu menang," lanjut Charles.

Raja Charles menekankan bahwa esensi dari kedua bangsa terletak pada kemurahan hati dan rasa tanggung jawab sosial. Ia mengajak semua pihak untuk terus mempromosikan kasih sayang dan perdamaian di tingkat global.

"Saya percaya bahwa esensi dari kedua bangsa kita adalah kemurahan hati dan tanggung jawab untuk menumbuhkan kasih sayang, mempromosikan perdamaian, memperdalam toleransi, serta menghargai semua orang dari berbagai keyakinan," tutup Charles.