Review Film Badut Gendong: Kombinasi Cerita Cinta, Kehilangan, dan Kengerian dalam Qodrat Universe

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Film Badut Gendong dibuka dengan interaksi manis pasangan suami istri Darso (Marthino Lio) dan Darsi (Dayinta Melira). Hidup mereka memang melarat, mencari uang pun dilakukan dengan cara mengamen bersama boneka yang digendong Darso di bagian depan tubuhnya. 

Namun, mereka bahagia. Begitu berbahagia. Apalagi begitu Darsi mengungkap satu berita besar untuk sang suami: kini ia berbadan dua. "Aku bakal jadi Bapak!" teriak Darso berulang-ulang mengelilingi stasiun, begitu ia menerima kabar tersebut.

Namun kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Darsi meregang nyawa dengan tragis, tak mampu ditolong Darso. 

Patah hati, sang pengamen badut kemudian memilih untuk kembali ke kampung halamannya. Tanpa ia ketahui, kondisi di desanya tengah bergolak, dengan kehadiran perusahaan developer dengan wakilnya yang jahat (Iskak Khivano). Target mereka, hendak menguasai tanah dan tebu di kawasan tersebut. Bahkan pada hari kepulangan Darso, konflik antara penduduk dengan perusahaan pecah, bahkan membuat tetua di desa mereka, Ki Kamboja (Barry Prima) luka parah.

Di tengah kekacauan, Ki Kamboja yang marah besar dengan situasi ini merapal mantra dan menyampaikan kutukannya. Dalam momen ini, mata pria tersebut tertuju pada sebentuk boneka yang digendong Darso ke mana pun. 

Ki Kamboja merapal mantra. Jampi-jampi yang pada akhirnya menimbulkan pertumpahan darah di desa. 

Jenazah Tanpa Wajah

Penduduk desa geger. Tiga centeng perusahaan ditemukan tewas bersimbah darah. Makin ngeri, karena jenazah mereka tak lagi dilengkapi wajah. Di waktu bersamaan, satu-satunya jembatan penghubung desa dengan dunia luar, roboh. Mustahil meminta bantuan polisi. 

Suasana makin menegangkan, ketika ditemukan warga lain yang meninggal dunia dalam kondisi tak wajar. Babinsa setempat (Derby Romero), bergerak menyelidiki sosok yang bertanggung jawab di balik kengerian ini. 

Di sisi lain, Darso menemukan hal-hal aneh terjadi pada dirinya. Terutama, saat ia sedang tidur atau tak sadarkan diri. Ada apa dengan Darso?

Kisah Cinta dan Kehilangan

Kehadiran Badut Gendong membawa napas segar untuk genre horor yang selama ini "menguasai" industri perfilman Tanah Air. Filmnya tak bergantung pada visualisasi setan yang menyeramkan, atau jump scare yang lebih berfungsi untuk ngagetin ketimbang nakutin.

Formula pertama yang digunakan dalam film ini, adalah membuat penonton berempati pada Darso. Pria baik hati nan lugu, yang terinjak-injak keadaan dan orang yang memanfaatkannya. Juga pria yang kehilangan cinta secara tragis, dan sulit untuk melepaskan diri dari rasa duka. Momen kengerian sendiri, muncul dari tindak-tanduk Darso yang sulit diprediksi selama ia kesurupan. Penonton tak ingin pria baik yang mereka kenal selama paruh awal film, menanggung konsekuensi atas kejahatan yang bahkan tak ia sadari. Selain itu, sutradara Charles Gozali juga memasukkan banyak elemen body horror dalam filmnya. Adegan panjang yang memperlihatkan tubuh yang dijahit hingga dicacah, sungguh bikin ngilu. Marthino Lio patut diacungi jempol atas aktingnya sebagai Darso. Baik sebagai pria yang tengah larut dalam duka, juga gestur tubuh saat sedang dirasuki oleh sosok tak kasat mata.