RI dorong kerja sama ASEAN-Uni Eropa di tengah krisis global

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha C. Nasir menilai kemitraan antara ASEAN dan Uni Eropa semakin strategis di tengah ketidakpastian global.

"Kemitraan ASEAN dan Uni Eropa bukan sekadar simbol. Manfaatnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku bisnis, serta dapat diandalkan oleh pasar," katanya dalam keterangan pers Kementerian Luar Negeri RI, Rabu (29/4).

Untuk itu, kata Arrmanatha, kedua pihak perlu mendorong terwujudnya Comprehensive Economic Partnership Agreement antara ASEAN dan Uni Eropa.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN–Uni Eropa ke-25 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, Selasa.

Pertemuan itu dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri II Brunei Darussalam dan High Representative Uni Eropa.

Forum tersebut membahas upaya memperkuat kemitraan strategis yang setara dan saling menguntungkan antara kedua kawasan.

Kemitraan ASEAN dan Uni Eropa akan memasuki usia 50 tahun pada 2027.

Pertemuan juga dimanfaatkan untuk bertukar pandangan mengenai isu kawasan dan global.

Wamenlu RI berharap Uni Eropa dapat memainkan peran konstruktif di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi.

Ia mendorong kerja sama antara ASEAN, Uni Eropa, dan negara-negara Selatan Global untuk mempertahankan sistem internasional yang terbuka, adil, dan stabil.

Wamenlu RI juga menyoroti pentingnya reformasi sistem multilateral serta kolaborasi kedua kawasan dalam mewujudkan tata kelola global yang lebih inklusif, efektif, dan responsif.

Di sela-sela pertemuan, Wamenlu Nasir melakukan pertemuan kehormatan dengan Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam dan High Representative Uni Eropa.

Ia juga menggelar pertemuan bilateral dengan wakil menteri luar negeri Austria, Polandia, Portugal, dan Jerman.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh para menteri dan wakil menteri luar negeri dari ASEAN dan Uni Eropa yang menekankan pentingnya multilateralisme dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Kerja sama di bidang energi, pangan, konektivitas, transformasi digital, maritim, dan perdagangan menjadi prioritas utama.

Pertemuan ditutup dengan adopsi pernyataan bersama para menteri luar negeri ASEAN–Uni Eropa.

Kemitraan kedua kawasan telah terjalin sejak 1977 dan dinilai memiliki potensi besar dalam membentuk tatanan global yang lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan.

Baca juga: Menlu Kamboja dan Thailand bahas isu perbatasan di Brunei
Baca juga: Indonesia perlu dorong percepatan SDGs dalam kemitraan ASEAN-Uni Eropa

Pewarta: Katriana
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.