Dominasi segelintir perusahaan teknologi raksasa menjadi penopang utama pergerakan pasar saham global dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terlihat jelas di Amerika Serikat melalui kelompok saham Magnificent Seven yang terdiri dari Nvidia, Apple, Microsoft, Amazon, Meta, Alphabet, dan Tesla.
Kenaikan indeks saham yang hanya digerakkan oleh segelintir emiten besar sering dianggap sebagai kondisi pasar yang tipis. Dilansir dari Money, banyak analis memperingatkan bahwa situasi tersebut merupakan sinyal kerentanan pasar terhadap koreksi di masa depan.
Namun, temuan riset profesor Hendrik Bessembinder dari Arizona State University menunjukkan bahwa konsentrasi keuntungan pada sedikit perusahaan bukanlah hal baru. Riset yang dikutip dari Money tersebut mengamati hampir 30.000 saham selama periode 1926 hingga 2025.
Data penelitian mengungkap bahwa rata-rata imbal hasil pasar mencapai lebih dari 30.000 persen dalam kurun waktu satu abad. Sebaliknya, saham median justru mencatatkan performa negatif dengan imbal hasil minus 6,9 persen.
Kondisi ini menegaskan bahwa mayoritas saham sebenarnya tidak memberikan keuntungan signifikan bagi investor dalam jangka panjang.
"Hanya 46 perusahaan yang menyumbang setengah dari kekayaan yang diciptakan pasar saham selama 100 tahun terakhir," tulis Bessembinder dalam risetnya.
Meskipun fluktuatif, pasar saham tetap terbukti menjadi instrumen pembentuk kekayaan yang sangat kuat. Selama seratus tahun terakhir, pasar saham AS menghasilkan kekayaan mencapai 91 triliun dollar AS atau setara Rp 1.581.307 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.377 per dollar AS.
Perbandingan Saham dan Obligasi
Efektivitas pasar saham terlihat dari perbandingan nilai investasi jangka panjang sejak tahun 1926. Investasi sebesar 1 dollar AS pada saham berkembang menjadi 15.401 dollar AS atau sekitar Rp 267,6 juta.
Nilai tersebut jauh melampaui investasi pada obligasi pemerintah AS dengan nominal yang sama. Investasi 1 dollar AS pada obligasi hanya tumbuh menjadi 25.34 dollar AS atau setara Rp 440.660.
"Dalam jangka pendek, pasar saham sangat fluktuatif. Apa pun bisa terjadi. Pasar saham bisa turun 50 persen dalam waktu kurang dari setahun," kata Bessembinder kepada CNBC Make It.
"Dalam jangka panjang, pasar saham telah menjadi mesin pembangun kekayaan yang luar biasa bagi investor," lanjut dia.
Tantangan Memilih Saham Pemenang
Banyak investor berupaya mencari saham yang akan melesat tinggi di masa depan, namun Bessembinder mengingatkan bahwa proses identifikasi tersebut sangat sulit dilakukan. Ia menilai mayoritas investor tidak memiliki konsistensi dalam memilih saham-saham terbaik.
"Ada perbedaan besar antara mengidentifikasi saham-saham ini dengan melihat ke belakang dan mencoba mengidentifikasinya ke depan," katanya.
Data menunjukkan hanya 27,6 persen saham yang mampu mengungguli kinerja pasar secara keseluruhan. Bahkan, sekitar 60 persen saham dalam sampel penelitian justru menyebabkan penurunan kekayaan bagi para investornya.
Kesulitan ini juga dialami oleh para profesional di industri keuangan. Berdasarkan data S&P Dow Jones Indices, sekitar 79 persen manajer reksa dana saham perusahaan besar gagal mengalahkan indeks S&P 500 pada tahun 2025.
"Alasan Anda benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu mencoba memilih saham terbaik adalah karena betapa tidak suksesnya orang-orang yang memang dibayar untuk melakukan itu," kata Kepala Strategi Investasi CFRA Sam Stovall.
Pentingnya Strategi Diversifikasi
Menghadapi sulitnya memilih saham individual, para penasihat keuangan merekomendasikan pembangunan portofolio yang terdiversifikasi luas. Strategi ini memungkinkan investor ritel tetap mendapatkan keuntungan dari kenaikan saham besar tanpa risiko ketergantungan pada satu entitas saja.
Perencana keuangan Bone Fide Wealth, Doug Boneparth, menyatakan bahwa pendekatan investasi pasif jangka panjang merupakan langkah paling realistis. Kedisiplinan dalam menjaga biaya tetap rendah dan mengendalikan emosi menjadi kunci keberhasilan investasi saat pasar mengalami kekacauan.
"Yang tepat untuk sebagian besar investor ritel adalah berpartisipasi di pasar untuk jangka panjang dengan menjadi investor pasif, menjaga biaya tetap rendah, dan mengendalikan emosi ketika keadaan menjadi kacau," katanya.
"Cara-cara investasi jangka panjang yang teruji dan sangat disiplin inilah yang pada akhirnya berhasil," lanjut dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·