Sebanyak 331 anak di Kota Taunsa, Provinsi Punjab, Pakistan teridentifikasi positif HIV antara November 2024 hingga Oktober 2025 akibat dugaan penggunaan ulang jarum suntik yang terkontaminasi di RS THQ Taunsa. Investigasi mengungkap bahwa praktik medis berbahaya ini terus berlanjut meskipun otoritas setempat telah menjanjikan penindakan tegas sejak awal tahun 2025.
Data dari program skrining AIDS Provinsi Punjab dan laporan klinik swasta menunjukkan bahwa mayoritas anak yang terinfeksi pernah menjalani perawatan di rumah sakit pemerintah tersebut. Dilansir dari Detikcom melalui laporan BBC Eye, hasil tes terhadap orang tua pasien menunjukkan sangat sedikit kasus yang disebabkan oleh penularan dari ibu ke anak.
Rekaman rahasia yang diambil pada akhir tahun 2025 memperlihatkan staf medis menggunakan jarum yang sama berulang kali pada botol obat hingga sepuluh kali. Selain itu, petugas kesehatan terekam memberikan suntikan tanpa menggunakan sarung tangan steril sebanyak 66 kali kepada pasien yang berbeda.
"Kalaupun mereka memasang jarum baru, bagian belakang suntikan memiliki virus di dalamnya, sehingga akan menular bahkan dengan jarum baru," kata Dr Altaf Ahmed, ahli mikrobiologi konsultan dan pakar penyakit menular di Pakistan.
Direktur medis rumah sakit, Dr Qasim Buzdar, menolak mengakui keaslian rekaman tersebut dan bersikeras bahwa fasilitasnya aman bagi pasien anak-anak. Meski demikian, laporan inspeksi gabungan dari WHO dan Unicef pada April 2025 menemukan kondisi memprihatinkan di ruang gawat darurat pediatrik, termasuk penggunaan kembali set infus bekas.
Wabah ini juga dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat terhadap prosedur suntikan untuk pengobatan penyakit ringan. Pakistan tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat suntikan terapeutik tertinggi di dunia, yang seringkali dilakukan tanpa urgensi medis yang jelas.
Pemerintah Negara Bagian Punjab sebelumnya sempat menskorsing direktur medis rumah sakit tersebut pada Maret 2025 saat kasus mencapai 106 orang. Namun, pejabat yang diskors diketahui kembali bekerja di fasilitas kesehatan lain hanya dalam waktu tiga bulan setelah sanksi dijatuhkan.
Asma, salah satu penyintas berusia 10 tahun, kini harus menjalani pengobatan seumur hidup setelah tertular virus tersebut di rumah sakit. Ayah dari pasien lain melaporkan bahwa teguran orang tua terhadap praktik penggunaan ulang jarum suntik sering kali diabaikan oleh perawat di lapangan.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·