Rupiah Melemah ke Level Rp 17.596 Per Dolar Amerika Serikat

Sedang Trending 39 menit yang lalu

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Dilansir dari Detik Finance, mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.596 pada sore hari, melampaui asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 16.500.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai posisi dolar AS saat ini sangat sulit untuk kembali turun ke bawah level Rp 17.000. Fenomena pelemahan ini dipandang telah membentuk titik fundamental baru dalam pergerakan mata uang nasional.

"Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka kesimbangan baru begitu ya. Ada angka kesimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Tauhid menjelaskan bahwa upaya stabilisasi melalui operasi moneter Bank Indonesia biasanya membutuhkan waktu lama hanya untuk menguatkan rupiah sebesar Rp 500. Ia memprediksi penguatan maksimal setidaknya hanya akan mencapai rentang Rp 17.000 hingga Rp 17.200 per dolar AS.

"Tapi saya yakin ya masih bisa mendekati angka Rp 17.000 itu memungkinkan apakah Rp 17.100 atau Rp 17.200 begitu, tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah yang dilakukan bank sentral itu harus benar-benar efektif," papar Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Kesenjangan antara kenyataan pasar dan target pemerintah membuat Tauhid menyarankan adanya revisi pada asumsi makro dalam anggaran negara. Jika perubahan APBN tidak dilakukan, ia mendesak pemerintah untuk memberikan kejelasan strategi fiskal demi menjaga kepercayaan para pemodal.

"Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku bisnis dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih yakin ya," beber Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Analisis dari Lukman Leong selaku Analis Doo Financial Futures menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak yang membebani rupiah. Selain itu, defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen turut menciptakan sentimen negatif di pasar domestik.

"Semua bisa terjadi (penguatan signifikan rupiah terhadap dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula," beber Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Kondisi pasar modal yang tidak stabil juga menyebabkan aliran modal keluar karena investor mencari aset yang lebih aman. Lukman menekankan pentingnya langkah berani dari sisi otoritas fiskal dan moneter untuk membendung pelemahan lebih lanjut.

"Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu menaikkan suku bunga," tegas Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menambahkan bahwa kredibilitas pemerintah dalam mengelola persepsi pasar sangat krusial. Pemulihan kepercayaan investor sangat bergantung pada komunikasi para pejabat publik terkait kondisi ekonomi.

"Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membuat rupiah masuk angin lebih cepat dari yang dibayangkan," ujar Ronny P Sasmita, Ekonom ISEAI.

Sementara itu, Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia menyoroti pentingnya sinkronisasi antara anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK). Menurutnya, intervensi pasar tidak akan maksimal tanpa adanya komunikasi kebijakan yang konsisten dari pemerintah dan bank sentral.

"Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar," tegas Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku dan energi dinilai menjadi kelemahan mendasar saat terjadi gejolak global. Yusuf mendorong penguatan industri farmasi dan kimia dasar di dalam negeri agar ketergantungan terhadap valuta asing dapat dikurangi secara bertahap.

"Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.