Rupiah Tembus Rp17.591 per Dolar AS Terlemah Sepanjang Sejarah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot tajam hingga menyentuh angka Rp17.591 pada perdagangan Sabtu (16/5/2026). Angka ini tercatat sebagai nilai tukar rupiah terendah sepanjang masa dalam sejarah ekonomi Indonesia sejak periode 1994.

Pelemahan ini semakin mengkhawatirkan setelah mata uang garuda sempat mendekati level psikologis baru di angka Rp17.600 pada pagi hari ini. Berdasarkan data pergerakan pasar, rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 2,28 persen dalam satu bulan terakhir dan merosot hingga 6,20 persen selama setahun belakangan.

Kondisi ini dipicu oleh rilis data ekonomi global, terutama melonjaknya tingkat inflasi di Amerika Serikat yang kini mencapai 3,80 persen dari sebelumnya 3,30 persen. Kenaikan inflasi di Negeri Paman Sam tersebut memperkuat posisi dolar AS di pasar global karena ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga ketat yang masih berlanjut.

Rupiah Melemah Tembus Level Rp17.500 per Dolar AS | Liputan6

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Analis pasar menyoroti kesenjangan indikator makroekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat sebagai alasan utama "kenapa rupiah melemah terhadap dollar" secara signifikan bulan ini. Saat inflasi AS mendaki, tingkat inflasi Indonesia justru tercatat menurun ke angka 2,42 persen dari sebelumnya 3,48 persen.

Selain faktor inflasi, selisih suku bunga juga menjadi perhatian serius para pelaku pasar. Saat ini, suku bunga acuan Amerika Serikat berada di level 3,75 persen, sementara suku bunga Bank Indonesia bertahan di posisi 4,75 persen. Tipisnya selisih ini membuat aset dalam denominasi rupiah menjadi kurang menarik bagi investor asing.

Tekanan eksternal kian berat mengingat tingkat pengangguran di Amerika Serikat yang berada di angka 4,30 persen, yang memberikan ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan moneter mereka. Di sisi lain, tingkat pengangguran Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 4,68 persen.

Bank Indonesia telah merilis pembaruan kurs elektronik (e-Rate) pada 16 Mei 2026 pukul 04.00 WIB sebagai acuan bagi perbankan dan pelaku usaha. Data tersebut mencakup nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang utama dunia selain dolar AS.

Berikut adalah tabel kurs transaksi Bank Indonesia untuk beberapa mata uang asing utama pada hari ini:

Tabel Kurs Transaksi Bank Indonesia per 16 Mei 2026Mata WangKurs Jual (IDR)Kurs Beli (IDR)
USD (Dolar Amerika)17.678,9617.503,05
SGD (Dolar Singapura)13.047,1712.914,60
EUR (Euro)19.144,3518.949,30
MYR (Ringgit Malaysia)3.729,743.690,29
JPY (Yen Jepang per 100)11.332,6711.218,47

Masyarakat perlu memahami "cara baca kurs jual dan beli bank" agar tidak keliru dalam bertransaksi. Kurs jual adalah harga yang digunakan bank saat menjual valas kepada nasabah, sedangkan kurs beli adalah harga yang digunakan bank saat membeli valas dari nasabah.

Prediksi Kebijakan dan Dampak Ekonomi

Merespons situasi ini, pasar mulai melakukan "prediksi suku bunga bank indonesia 2026" yang kemungkinan besar akan mengalami kenaikan guna menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah intervensi di pasar valas melalui transaksi spot maupun DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) diperkirakan akan terus diperkuat oleh otoritas moneter.

Pelemahan rupiah yang berkelanjutan dikhawatirkan dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor atau imported inflation. Industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri mulai melakukan penyesuaian strategi guna mengantisipasi pembengkakan biaya operasional akibat selisih kurs yang lebar.

Informasi ini bukan saran investasi atau perdagangan valuta asing. Nilai tukar mata uang dapat berfluktuasi secara dinamis setiap waktu. Konsultasikan dengan penasihat keuangan atau pantau informasi resmi dari Bank Indonesia untuk keputusan finansial Anda.

Hingga sore ini, volume transaksi internasional terpantau tetap tinggi. Secara global, penyedia jasa pengiriman uang skala besar dilaporkan masih memproses transaksi dengan nilai mencapai lebih dari 15 miliar USD setiap bulannya, yang menunjukkan tingginya ketergantungan arus modal internasional di tengah ketidakpastian nilai tukar.