Mata uang rupiah ditutup terdepresiasi sebesar 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp 17.744 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (25/5/2026). Penurunan kurs ini dipicu oleh sentimen domestik dan global yang belum kondusif bagi pasar keuangan Indonesia, sebagaimana dilansir dari Money.
Kondisi internal yang membebani pergerakan mata uang Garuda meliputi isu anggaran serta kebijakan perdagangan baru yang memicu kekhawatiran pelaku pasar. Akibatnya, rupiah diproyeksikan masih akan melanjutkan tren penurunan pada perdagangan selanjutnya.
“Sore ini rupiah ditutup melemah 27 poin di level Rp 17.744, kemungkinan besar dalam perdagangan besok (Selasa), ya masih akan melemah di level Rp 17.740 sampai di level Rp 17.800 per dollar AS,” ujar Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Senin sore.
Ibrahim menjelaskan bahwa permasalahan defisit anggaran menjadi faktor utama dari dalam negeri yang menekan pergerakan rupiah. Sentimen negatif ini tetap kuat meskipun harga minyak dunia tercatat sedang mengalami penurunan.
“Kalau dilihat dari segi internal sendiri, kita tahu bahwa permasalahan defisit anggaran ini yang dijadikan momok oleh pasar. Walaupun harga minyak mengalami penurunan tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah,” papar Ibrahim.
Pergerakan negatif ini membuat posisi Indonesia berbeda dengan negara-negara tetangga di kawasan regional. Mata uang di sekitar Asia justru terpantau bergerak menguat di saat rupiah mengalami koreksi.
“Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau tapi Indonesia memerah,” lanjut Ibrahim.
Faktor domestik lain yang disoroti adalah pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai kebijakan pengelolaan ekspor komoditas satu pintu melalui Danantara. Langkah tersebut dikhawatirkan investor dapat memicu penilaian buruk dari lembaga internasional terhadap peringkat utang pemerintah.
“Kemudian yang kedua tentang pidato Presiden mengenai masalah ekspor untuk komoditas satu pintu melalui Danantara. Nah ini pun juga membuat banyak kecaman terhadap pemeringkat internasional yang kemungkinan besar lembaga seperti S&P Global dan lain-lainnya akan menurunkan rating utang pemerintah Indonesia,” tukas Ibrahim.
Di sisi lain, terdapat faktor eksternal berupa harapan perdamaian di Timur Tengah yang memberikan sentimen positif. Hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran dinilai pasar menunjukkan perkembangan yang baik.
“Yang positifnya itu adalah pasar optimistis bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan perdamaian. Walaupun masih ada perselisihan mengenai isu-isu kunci tentang Selat Hormuz,” ucap Ibrahim.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi antara Washington dan Iran memiliki potensi untuk mencapai kesepakatan, walaupun peluang perdamaian penuh dinilai masih kecil. Selain isu geopolitik, pergerakan eksternal juga dipengaruhi oleh prospek suku bunga tinggi The Fed yang diperkirakan bertahan lama setelah adanya pernyataan dari pejabat bank sentral seperti Christopher Waller dan Kevin Warsh. Pada pekan ini, pelaku pasar global masih menantikan rilis data ekonomi penting AS termasuk produk domestik bruto (PDB) serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (Core PCE).
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·