Rupiah Menembus Level Psikologis Rp 17.000 per Dollar AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu

JAKARTA, KOMPAS.com — Rupiah menembus level psikologis Rp 17.000 per dollar AS di tengah arus modal keluar dan gejolak geopolitik global.

Namun di tengah tekanan itu, Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya, atau undervalued.

Penilaian itu membuka pertanyaan baru: apakah pelemahan rupiah saat ini hanya bersifat sementara, dan masih adakah ruang bagi rupiah kembali menguat?

Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.

Laporan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menunjukkan, antara pertengahan Maret hingga pertengahan April 2026, rupiah melemah 0,88 persen secara bulanan dari Rp 16.975 per dollar AS menjadi Rp 17.125 per dollar AS.

Secara year-to-date atau sejak awal tahun 2026, rupiah tercatat melemah 3,06 persen.

Tekanan itu terjadi seiring arus modal keluar bersih sebesar 1,47 miliar dollar AS atau sekitar Rp 25,1 triliun.

Arus keluar terutama berasal dari pasar saham sebesar 1,80 miliar dollar AS, meski pasar obligasi pemerintah masih mencatat arus masuk 330 juta dollar AS.

Dalam asesmen LPEM FEB UI, keluarnya dana asing itu dipicu meningkatnya aversi risiko pasca eskalasi konflik AS-Iran, yang mendorong investor mengalihkan portofolio dari aset negara berkembang ke instrumen yang lebih aman.

Namun di tengah tekanan itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menilai pelemahan rupiah belum mencerminkan fundamental ekonomi domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo saat acara Launching AKSI KLIK di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/4/2026).

Berdasarkan data BI, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.140 per dollar AS pada 21 April 2026, melemah 0,87 persen dibanding akhir Maret 2026.

Menurut Perry, secara fundamental rupiah seharusnya ditopang oleh ketahanan ekonomi domestik, inflasi yang terjaga, imbal hasil domestik yang menarik, serta berbagai langkah stabilisasi rupiah yang ditempuh BI.

Mengapa BI menilai rupiah undervalued?

Pandangan bahwa rupiah undervalued bertumpu pada sejumlah indikator fundamental yang menurut BI masih relatif solid.

Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 4,9 sampai 5,7 persen pada 2026, di tengah tekanan eksternal. Kedua, inflasi masih dijaga dalam sasaran 1,5 sampai 3,5 persen, meski Maret 2026 berada dekat batas atas target di level 3,48 persen.

Ketiga, BI melihat daya tarik aset domestik masih terjaga melalui imbal hasil yang kompetitif dan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik dan juga komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

Pandangan itu sekaligus memberi dimensi berbeda terhadap pelemahan kurs.

Jika selama ini tekanan rupiah banyak dibaca sebagai refleksi tekanan eksternal, bank sentral justru melihatnya lebih sebagai mispricing sementara akibat sentimen global.

Tekanan global dan respons BI

Meski menilai rupiah undervalued, Perry mengakui perang Iran memberi tekanan terhadap nilai tukar melalui kenaikan harga minyak, penguatan dollar AS, dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memengaruhi arus modal ke pasar berkembang.

Tekanan eksternal itu pula yang dinilai mendorong BI mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.

Dalam polling Reuters, mayoritas ekonom juga memperkirakan BI menahan suku bunga sepanjang tahun ini karena risiko inflasi dan pelemahan rupiah mempersempit ruang pelonggaran kebijakan.

Menurut LPEM FEB UI, pelonggaran moneter prematur berisiko memperparah arus keluar modal dan mendorong depresiasi rupiah lebih dalam.

Karena itu, respons BI lebih banyak diarahkan pada stabilisasi.

Bank sentral meningkatkan intensitas intervensi melalui pasar offshore non-deliverable forward (NDF), transaksi spot, dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

BI juga menyatakan siap menggunakan setiap instrumen yang dimiliki untuk menjaga stabilitas rupiah saat kurs sempat menyentuh rekor terendah awal April 2026.

Selain intervensi valas, BI menjaga daya tarik aset rupiah lewat penyesuaian suku bunga SRBI untuk menarik kembali aliran modal asing.

Cadangan devisa dan likuiditas jadi penyangga

Upaya stabilisasi juga tercermin dari penggunaan cadangan devisa. Posisi cadangan devisa Indonesia turun menjadi 148,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.537 triliun pada akhir Maret 2026, berkurang 3,75 miliar dollar AS dibanding bulan sebelumnya.

Meski turun tiga bulan beruntun, LPEM FEB UI menilai kecukupan cadangan devisa tetap kuat, setara sekitar enam bulan impor.

Di sisi lain, pemerintah menyuntikkan likuiditas sekitar Rp 100 triliun ke sistem perbankan, terutama melalui bank-bank BUMN, untuk menopang pembelian obligasi pemerintah dan menahan tekanan kenaikan imbal hasil surat utang.

Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun tercatat turun dari 6,91 persen menjadi 6,66 persen, sedangkan tenor satu tahun turun dari 5,82 persen menjadi 5,59 persen.

Sementara dari sisi likuiditas, BI juga mengarahkan pertumbuhan uang primer (M0) di atas 10 persen. Pada Maret 2026, M0 tumbuh 11,8 persen secara tahunan.

Langkah-langkah itu menunjukkan fokus kebijakan bukan hanya mempertahankan kurs, tetapi juga menjaga transmisi stabilitas ke pasar keuangan domestik.

Bisakah rupiah menguat lagi?

Pertanyaan apakah rupiah bisa kembali menguat bergantung pada dua faktor besar: meredanya tekanan eksternal dan efektivitas respons kebijakan domestik.

Jika tekanan geopolitik mereda dan arus modal kembali masuk, pandangan BI bahwa rupiah saat ini undervalued bisa menjadi dasar penguatan kurs.

Namun dalam jangka pendek, tantangannya tetap besar.

LPEM FEB UI menilai volatilitas global, risiko inflasi impor, dan arah suku bunga global masih membuat stabilitas eksternal menjadi prioritas utama kebijakan.

Dalam RDG BI April 2026, Perry menegaskan bank sentral siap menempuh penguatan kebijakan moneter lebih lanjut bila diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi dalam sasaran.

Artinya, ruang penguatan rupiah yang diyakini BI tetap sangat ditentukan sentimen global, bukan semata fundamental domestik.

Di titik itu, ada paradoks yang menarik: rupiah dinilai murah dibanding fundamentalnya, tetapi justru tetap tertekan karena faktor eksternal.

Di tengah paradoks itulah arah kebijakan BI kini bertumpu, yakni menjaga stabilitas rupiah sambil membuka peluang penguatan jika tekanan global mulai mereda.