Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis sebesar 0,03 persen ke level Rp 17.138 per dollar AS pada Kamis (16/4/2026). Pergerakan mata uang garuda ini naik 4 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.143.
Kenaikan tipis ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, sebagaimana dilansir dari Money. Sentimen positif pasar muncul setelah adanya pernyataan dari Gedung Putih mengenai peluang kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik kedua negara tersebut.
"Gedung Putih menyatakan optimisme pada hari Rabu tentang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran, sambil juga memperingatkan peningkatan tekanan ekonomi terhadap Teheran jika tetap menentang," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas, Kamis (16/4/2026).
Meskipun ada upaya diplomasi di Pakistan, Amerika Serikat tetap menjalankan blokade pengiriman dari pelabuhan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan tidak akan memperpanjang pengecualian sanksi bagi pembelian minyak dari Iran maupun Rusia dalam waktu dekat.
Kondisi eksternal ini berdampak pada jalur logistik di Selat Hormuz yang menjadi titik krusial distribusi 20 persen minyak dan gas alam cair dunia. Hambatan di jalur tersebut sebelumnya sempat mengganggu stabilitas pasokan energi global dan memicu fluktuasi harga komoditas.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti lonjakan utang luar negeri Indonesia yang mencapai 437,9 miliar dollar AS pada Februari 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 2,5 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan pada Januari yang tercatat sebesar 1,7 persen.
Sektor publik dan bank sentral menjadi penyumbang utama kenaikan utang melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, utang pemerintah tercatat berada di angka 215,9 miliar dollar AS atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan akibat penyesuaian instrumen surat utang.
Tekanan fiskal juga dilaporkan meningkat dengan defisit anggaran hingga Maret 2026 yang menembus Rp 240 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Nilai defisit ini melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp 100 triliun.
Pemerintah diprediksi akan merevisi asumsi APBN pada Agustus mendatang jika harga minyak dunia bertahan di level 100 dollar AS per barrel. Kondisi ini membawa risiko penyesuaian harga BBM bersubsidi guna menjaga agar defisit anggaran tidak melampaui batas aman 3 persen.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·