Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis 0,02 persen ke level Rp17.136 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (16/4/2026) sore. Meski mengalami apresiasi terbatas, posisi rupiah tercatat masih tertahan di atas level psikologis baru Rp17.000 per dolar AS.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan mata uang Garuda ini hampir stagnan bersamaan dengan indeks dolar AS yang naik 0,02 persen ke angka 98,07. Penguatan rupiah terjadi seiring dengan tren positif mata uang di kawasan Asia yang merespons penurunan harga minyak mentah.
Harga minyak mentah dunia terkoreksi 0,68 persen ke posisi US$95,58 per barel akibat sentimen perpanjangan gencatan senjata dalam konflik global. Kondisi ini memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk melakukan rebound terhadap dolar AS pada penutupan sore ini.
Baht Thailand memimpin penguatan di kawasan sebesar 0,69 persen, diikuti dolar Taiwan 0,33 persen, dan peso Filipina 0,15 persen. Sementara itu, posisi rupiah berada di jajaran bawah bersama yuan China, di atas ringgit Malaysia dan rupee India yang menguat 0,10 persen.
Analis memperkirakan penguatan rupiah hari ini bersifat sementara dan belum menunjukkan perubahan tren jangka panjang yang signifikan. Mata uang domestik diprediksi masih berpotensi mengalami depresiasi lanjutan pada rentang Rp17.150 hingga Rp17.270 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kekhawatiran investor mengenai kondisi fiskal dalam negeri, terutama terkait beban subsidi energi. S&P Global Ratings memproyeksikan kenaikan harga energi akibat perang berkepanjangan dapat memperberat pengeluaran pemerintah Indonesia.
Peningkatan biaya impor minyak juga berisiko memperlebar defisit neraca transaksi berjalan serta memicu inflasi domestik. Situasi ini meningkatkan risiko kenaikan suku bunga pasar yang berujung pada membengkaknya biaya pinjaman pemerintah dalam APBN.
Sebelumnya, pada Februari lalu, S&P Ratings telah memberikan peringatan mengenai tekanan fiskal yang dapat menurunkan profil kredit Indonesia. Hingga saat ini, rupiah telah terdepresiasi sebesar 2,6 persen sepanjang tahun berjalan, menjadikannya mata uang terlemah kedua di Asia setelah rupee India.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·