Rupiah Sentuh Level Terendah Rp17.500 per Dolar AS pada Mei 2026

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Nilai tukar rupiah merosot ke posisi terendah sepanjang sejarah setelah ditutup melemah 0,51 persen ke level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, depresiasi mata uang Garuda ini beriringan dengan aksi jual bersih investor asing di pasar saham yang mencapai Rp751 miliar pada hari yang sama.

Keluarnya dana asing dari pasar domestik tercatat terus terakumulasi hingga menyentuh angka Rp38,36 triliun. Fenomena arus modal keluar atau outflow ini menjadi salah satu faktor utama yang memperberat tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Permintaan valuta asing meningkat untuk keperluan pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen perusahaan, serta kebutuhan ibadah haji, sementara kondisi eksternal diperburuk oleh konflik di Timur Tengah yang menaikkan harga minyak.

"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai siklus repatriasi dividen tahunan atau fenomena 'Sell in May and Go Away' seharusnya tidak menjadi alasan tunggal anjloknya rupiah. Ia menyoroti risiko geopolitik di Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi global dan memicu kekhawatiran inflasi yang dapat menahan suku bunga The Fed tetap tinggi.

“Pembayaran dividen berlangsung setiap tahun dan tidak langsung membuat Rupiah jeblok seperti saat ini. Jadi tidak bisa dibilang sebagai alasan utama,” kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Liza menambahkan bahwa kondisi fiskal dalam negeri turut memengaruhi sentimen pasar, terutama beban utang pemerintah yang mendekati Rp10.000 triliun dengan jatuh tempo Rp800 triliun tahun ini. Penurunan peringkat utang (sovereign downgrade) dari berbagai lembaga finansial global seperti Moody's hingga Goldman Sachs dianggap menurunkan daya tawar Indonesia.

“Jadi bagaimana rasio utang terhadap GDP kita? Walaupun kata Pak Purbaya masih 40% atau masih dalam kategori normal, tapi ini membesar. Selain itu sovereign downgrade kita terjadi di mana-mana. Dari institusi finansial global, dari Moody's, Fitch, UBS, Nomura, dan Goldman Sachs. Jadi nilai tawar Indonesia, bargaining power kita semakin tidak menarik,” lanjut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Tekanan terhadap mata uang nasional juga disebut berkaitan erat dengan sentimen indeks MSCI yang memicu keluarnya aliran modal dalam jumlah besar.

"Jadi, outflow sebesar itu sangat berkaitan dengan rupiah, ditambah lagi dengan sentimen MSCI," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Analis Henan Sekuritas James Stanley memaparkan bahwa pelemahan saat ini merupakan perpaduan faktor musiman dan masalah struktural. Meskipun kuartal kedua selalu menjadi periode repatriasi dividen, tekanan diperparah oleh defisit transaksi berjalan akibat tingginya harga energi dan terbatasnya cadangan devisa.

“Selain itu, tingginya harga energi turut membebani neraca pembayaran dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Dengan cadangan devisa yang terbatas, tekanan harga energi dan outflow pasar modal diperkirakan akan tetap menjaga Rupiah di posisi lemah dalam jangka pendek,” kata James Stanley, Analis Henan Sekuritas.