Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS Terlemah Sepanjang Sejarah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah merosot hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Penurunan sebesar 0,51 persen ini menandai posisi terlemah mata uang Indonesia sepanjang sejarah di tengah tekanan ketidakpastian pasar global dan permintaan domestik yang tinggi.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, kondisi depresiasi ini membuat peluang kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate semakin terbuka lebar. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memberikan pandangan mengenai potensi kebijakan moneter yang mungkin diambil oleh Bank Indonesia merespons situasi tersebut.

“Bank Indonesia pada April 2026 masih mempertahankan BI Rate di 4,75% karena inflasi masih dalam sasaran, namun BI juga menegaskan siap memperkuat kebijakan moneter apabila diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank.

Pardede menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang garuda dipicu oleh berbagai faktor kompleks. Selain ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, tingginya permintaan dolar di pasar domestik serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesinambungan fiskal turut memperberat posisi rupiah.

“Namun, bila rupiah bertahan di atas Rp17.500, pelemahan makin cepat, cadangan devisa terus terpakai, dan ekspektasi inflasi mulai terganggu, maka kenaikan BI Rate sebesar 25bps menjadi opsi kebijakan bisa dapat dipertimbangkan,” kata Josua Pardede.

Meski kenaikan suku bunga efektif menahan tekanan nilai tukar, Pardede mengingatkan adanya dampak sampingan terhadap sektor perbankan dan konsumsi masyarakat. Kenaikan biaya dana dapat menghambat pertumbuhan kredit dan meningkatkan beban pembiayaan pemerintah.

“Di sisi lain, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya dana perbankan, menahan pertumbuhan kredit, menekan konsumsi dan investasi, serta memperbesar biaya pembiayaan pemerintah di pasar SBN,” katanya.

Lebih lanjut, Pardede menekankan bahwa Bank Indonesia perlu melakukan kombinasi kebijakan yang konsisten. Kredibilitas pasar tetap harus dijaga melalui disiplin fiskal dan komunikasi kebijakan yang transparan agar investor tidak menarik modalnya.

“Dengan rupiah di sekitar Rp17.500, peluang kenaikan BI Rate sudah lebih tinggi dibanding sebelumnya, tetapi kebijakan paling efektif tetap harus berupa kombinasi antara stabilisasi rupiah oleh BI, disiplin fiskal oleh pemerintah, perbaikan penerimaan negara, dan komunikasi kebijakan yang konsisten agar pasar melihat Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap kredibel,” kata Josua Pardede.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pelemahan ini didorong oleh faktor musiman dan ketegangan geopolitik. Kebutuhan valuta asing di pasar domestik meningkat tajam untuk keperluan pembayaran utang luar negeri serta dividen korporasi.

Permintaan dolar AS juga terdorong oleh kebutuhan masyarakat untuk pelaksanaan ibadah haji pada periode ini. Di kancah global, konflik Timur Tengah yang belum mereda telah memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak pada volatilitas nilai tukar secara keseluruhan.