Mata uang rupiah berakhir di posisi terlemah sepanjang sejarah pada level Rp17.280 per dolar AS dalam penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026). Depresiasi sebesar 0,64 persen ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasar global.
Data Refinitiv menunjukkan nilai tukar Garuda sudah tertekan sejak pembukaan pasar di level Rp17.210 per dolar AS. Selama sesi perdagangan, koreksi terus meluas hingga sempat menyentuh titik terendah harian di angka Rp17.320 per dolar AS sebelum akhirnya sedikit menguat menjelang penutupan.
Kenaikan indeks dolar AS (DXY) ke level 98,658 turut memperberat posisi rupiah di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Ketidakpastian di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah melambung melewati angka US$100 per barel dan memicu guncangan energi dunia.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan bahwa gejolak harga minyak dan sentimen negatif konflik internasional menjadi penyebab utama anjloknya nilai tukar. Selain faktor eksternal, tekanan internal muncul dari lonjakan permintaan valuta asing untuk keperluan musiman korporasi.
"Selain isu harga minyak dan kondisi di Timur Tengah, ada seasonal demand juga untuk pembayaran dividen," kata David kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Kondisi pasar saat ini juga sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian negosiasi damai antara Teheran dan Washington. Gangguan pada jalur distribusi energi strategis di Selat Hormuz secara efektif tetap menjadi beban besar bagi perekonomian global menurut laporan CNBC Indonesia.
Kepala Ekonom dan Riset Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai situasi ini juga memperlihatkan strategi otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nasional. Bank Indonesia terpantau menerapkan langkah intervensi yang lebih selektif di pasar valas untuk melindungi posisi cadangan devisa dari pengikisan yang terlalu ekstrem.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·