Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus menguat di tengah memanasnya konflik geopolitik global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Seperti dikutip dari Money, kurs rupiah berada di level Rp 17.686 per dollar AS pada Kamis (21/5/2026) setelah sempat melemah ke level terendah sepanjang masa hingga menembus Rp 17.700 per dollar AS.
Mata uang Garuda sedikit menguat setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Rabu (20/5/2026). Namun, pelemahan drastis dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak luas pada perekonomian domestik, seperti kenaikan harga barang impor, tekanan anggaran negara, hingga penurunan daya beli masyarakat.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Rijadh Djatu Winardi menilai pelemahan rupiah terjadi akibat akumulasi berbagai tekanan global dan domestik yang datang bersamaan. Ia menyebut kondisi ini sebagai fenomena ekstrem yang memperbesar tekanan terhadap nilai tukar.
"Dari sisi global, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia mendorong lonjakan permintaan terhadap dollar AS sehingga investor cenderung menjadikannya sebagai aset aman utama," ujar Rijadh.
Dari sisi domestik, Rijadh menyebutkan adanya faktor musiman seperti periode pembayaran dividen kepada investor asing yang meningkatkan kebutuhan valuta asing. Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas turut mendorong persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia.
"Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam," jelasnya.
Di tengah tekanan yang terjadi, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi di bawah nilai fundamentalnya atau undervalue. Perry menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi domestik sebenarnya masih tergolong kuat.
Ketahanan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen. Selain itu, realisasi inflasi tahunan juga tetap terjaga pada level 2,42 persen.
"Nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Fundamental kita itu kuat," ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
BI mencatat nilai tukar rupiah telah melemah 3,65 persen sejak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada penutupan perdagangan hari itu, rupiah melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 17.424 per dollar AS.
Tujuh Langkah Kebijakan Bank Indonesia
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI telah menyiapkan tujuh langkah kebijakan penting. Langkah-langkah strategis ini juga telah mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Kami melapor kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh BI untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," kata Perry.
Langkah pertama adalah melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
Kedua, BI mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk meningkatkan aliran modal asing. Instrumen ini digunakan guna menutup tekanan arus modal keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.
"Itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah," ujar Perry.
Langkah ketiga, BI melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder sebagai bagian dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Hingga saat ini, realisasi pembelian SBN oleh BI telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year to date.
Keempat, BI bersama pemerintah menjaga kecukupan likuiditas di perbankan dan pasar uang yang tercermin dari pertumbuhan uang primer sebesar 14,1 persen.
Kelima, BI memperketat kebijakan pembelian valuta asing tanpa underlying transaksi. Batas pembelian yang sebelumnya 100.000 dollar AS per bulan diturunkan menjadi 50.000 dollar AS dan selanjutnya akan dipangkas menjadi 25.000 dollar AS.
"Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar Chinese yuan dengan rupiah sudah berkembang di dalam negeri. Karena local currency kita dengan yuan China sama rupiah itu sangat tinggi dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik yuan sama rupiah termasuk ini local currency sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dollar sehingga itu bisa memperkuat," tambahnya.
Langkah keenam dilakukan melalui penguatan intervensi di pasar offshore menggunakan instrumen NDF dengan melibatkan perbankan domestik untuk meningkatkan pasokan valuta asing.
Ketujuh, BI meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi yang memiliki permintaan dollar AS tinggi.
"Kami kirim pengawas ke sana (perbankan dan korporasi), koordinasi dengan Bu Friderica Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," tuturnya.
Dampak Kenaikan Harga dan Beban Fiskal
Rijadh Djatu Winardi menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak yang relatif cepat terhadap harga barang konsumsi masyarakat melalui fenomena imported inflation. Kondisi ini membuat harga bahan baku impor menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah.
Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen. Penyesuaian harga ini umumnya mulai dirasakan masyarakat dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya.
"Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak," katanya.
Tekanan terhadap rupiah juga memberi dampak besar terhadap anggaran negara, terutama pada pos subsidi energi karena Indonesia masih bergantung pada komponen impor. Selain itu, beban pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam denominasi rupiah otomatis membengkak.
"Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas," jelasnya.
Di sisi lain, kebijakan ini menempatkan BI dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas kurs atau mempertahankan suku bunga rendah demi mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, Rijadh menilai langkah intervensi dan penggunaan instrumen keuangan yang diambil BI sejauh ini sudah cukup rasional.
"Pendekatan ini menurut saya cukup rasional, karena mencoba menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik," katanya.
Rijadh juga mengingatkan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal, memperkuat sektor domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, serta memanfaatkan momentum untuk mendorong ekspor. Program perlindungan sosial juga harus diperkuat untuk melindungi masyarakat rentan.
"Yang tidak kalah penting menurut saya adalah menjaga daya tahan masyarakat rentan. Program perlindungan sosial harus tetap kuat dan adaptif, karena kelompok inilah yang biasanya paling cepat merasakan dampak dari kenaikan harga," tutupnya.
Kerentanan Sosial dan Kelas Menengah
Sosiolog UGM Arie Sujito menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampak negatif dari kondisi ini. Pelemahan rupiah kini menjadi ancaman nyata terhadap daya beli, tabungan, investasi, hingga rasa aman ekonomi keluarga.
Kenaikan biaya hidup memaksa masyarakat menghitung ulang pengeluaran rumah tangga dan mengurangi konsumsi untuk kebutuhan sekunder. Arie menyebut krisis geopolitik internasional, seperti konflik antara Iran dan Israel, turut memicu kenaikan harga minyak dunia dan biaya domestik.
"Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun," ungkapnya.
Menurut Arie, tekanan ekonomi yang terus berlangsung berpotensi berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas jika tidak segera diantisipasi. Ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya akan bergeser ke ranah stabilitas sosial.
"Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial," jelasnya.
Arie melihat ada jarak antara kebijakan perlindungan sosial yang dirancang pemerintah dengan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
"Terjadi diskoneksi antara upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi," tuturnya.
Ia juga menyoroti penurunan transfer fiskal dari pemerintah pusat yang membuat banyak daerah mengalami kesulitan pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik, termasuk sektor pendidikan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu krisis sosial yang lebih besar.
"Apabila tekanan ekonomi terus menumpuk tanpa solusi yang jelas, kondisi ini dikhawatirkan memengaruhi stabilitas sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap negara," pungkasnya.
Analisis Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dollar AS dipicu oleh meningkatnya risiko inflasi global akibat lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
"Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama," ujar Ibrahim.
Situasi tersebut mendorong investor global menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset berbasis dollar AS. Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta pola komunikasi pemerintah turut memengaruhi persepsi pasar.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah juga berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik.
"Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?" kata Bhima.
Bhima memaparkan faktor utama pelemahan rupiah meliputi kebijakan suku bunga The Fed, konflik geopolitik, kekhawatiran investor, hingga arus modal keluar. Ia mengingatkan nilai tukar rupiah berpotensi menembus Rp 20.000 per dollar AS jika tidak ada intervensi yang efektif.
"Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS," ujar Bhima.
38 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·