Bank Indonesia Ungkap Penyebab Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi bahwa tekanan yang terjadi pada nilai tukar rupiah belakangan ini bersumber dari faktor eksternal dan domestik. Lonjakan ketidakpastian global menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi mata uang Garuda.

Dikutip dari Kompas, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memberikan dampak berantai terhadap stabilitas ekonomi dunia. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah yang berujung pada tekanan bagi mata uang negara berkembang.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menjelaskan bahwa intensitas konflik yang meningkat di Timur Tengah telah memperkeruh suasana pasar keuangan global. Hal ini berdampak langsung pada posisi rupiah di pasar valuta asing.

"Tekanan rupiah hari ini meningkat karena di Timur Tengah masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global," kata Destry.

Selain sentimen dari luar negeri, BI juga menyoroti adanya lonjakan permintaan dolar AS di dalam negeri yang bersifat periodik. Kebutuhan valuta asing ini meningkat tajam karena adanya siklus musiman di pasar domestik.

Faktor internal tersebut mencakup pembayaran utang luar negeri (ULN) serta pembagian dividen perusahaan yang memerlukan dolar AS. Selain itu, pemenuhan kebutuhan untuk perjalanan ibadah haji turut mengerek permintaan valas di tanah air.

"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar AS secara musiman seperti untuk pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik," ujar Destry.

Guna meredam volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar melalui strategi intervensi yang terukur. Langkah ini diambil untuk memastikan rupiah tetap stabil di tengah ketidakpastian.

Otoritas moneter tersebut menjalankan intervensi melalui pasar spot maupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF). BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter lainnya demi menjaga keseimbangan pasar keuangan nasional.

Meskipun berada dalam tekanan, BI melaporkan bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan di Indonesia masih menunjukkan tren positif. Hal ini terlihat dari masuknya aliran modal ke instrumen portofolio domestik.

"BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik, yang tercermin dari inflows, khususnya ke pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp61,6 triliun," ungkap Destry.

Proyeksi Nilai Tukar Kedepan

BI memastikan bahwa ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar dalam negeri tetap dalam kondisi yang mencukupi. Berdasarkan data akhir Maret 2026, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas telah menyentuh angka 10,9 persen secara year to date (ytd).

Bank sentral optimis bahwa tekanan terhadap rupiah akan segera berkurang seiring dengan berakhirnya siklus musiman permintaan dolar. Kondisi ini diharapkan dapat mengembalikan nilai tukar rupiah ke posisi yang sesuai dengan nilai fundamentalnya.

"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," ucapnya.