S\&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia dengan Prospek Stabil

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa lembaga pemeringkat S\&P Global Ratings tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil pada Kamis (16/4/2026). Keputusan ini diambil usai pertemuan resmi di Washington DC, Amerika Serikat, meskipun lembaga tersebut memberikan catatan khusus mengenai beban bunga utang negara.

Dilansir dari Money, S\&P memberikan peringatan terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang kini menyentuh angka di atas 15 persen. Lembaga internasional tersebut meminta pemerintah Indonesia untuk melakukan diskusi lebih mendalam guna memastikan beban tersebut tidak mengganggu stabilitas fiskal di masa depan.

"Mereka memberi warning untuk mendiskusikan lebih dalam bahwa rating pembayaran bunga dibanding income-nya di atas 15 persen," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, dalam keterangan resminya. Pihaknya berkomitmen untuk terus memantau kondisi ekonomi agar indikator fiskal tetap terjaga.

Selain masalah bunga utang, S\&P menyoroti konsistensi pemerintah dalam menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Purbaya menjelaskan bahwa defisit anggaran tahun ini diperkirakan berada di angka 2,8 persen, turun tipis dari proyeksi awal sebesar 2,9 persen.

Kinerja penerimaan negara turut menjadi faktor penguat kepercayaan S\&P terhadap ketahanan ekonomi nasional. Berdasarkan data kementerian, pertumbuhan pajak pada Januari 2026 mencapai 30 persen, sementara akumulasi pertumbuhan pada periode Januari hingga Maret tercatat sebesar 20 persen.

Meski peringkat dipertahankan, S\&P dalam laporannya pada Selasa (14/4/2026) menyebut posisi fiskal Indonesia termasuk yang paling rentan di Asia Tenggara jika konflik geopolitik di Timur Tengah meluas. Kenaikan harga energi global dinilai berpotensi menekan ruang fiskal melalui peningkatan beban subsidi energi.

Pemerintah menyatakan akan tetap disiplin dalam menjalankan kebijakan fiskal sesuai arahan presiden. Fokus utama saat ini adalah memastikan aktivitas ekonomi tetap menguat di tengah tekanan global yang masih dinamis demi menjaga kepercayaan investor dan lembaga pemeringkat internasional.