S\&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia di Level BBB Outlook Stabil

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Lembaga pemeringkat S\&P Global Ratings menetapkan peringkat utang Indonesia tetap berada pada level investment grade BBB dengan outlook stabil pada Kamis (16/4/2026). Keputusan ini diambil setelah lembaga tersebut mengevaluasi ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan fiskal global.

Dilansir dari Money, pemerintah Indonesia mendapatkan catatan khusus terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang kini melampaui angka 15 persen. Meskipun peringkat tetap terjaga, indikator tersebut menjadi poin perhatian utama dalam penilaian stabilitas keuangan negara oleh lembaga internasional tersebut.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pihak S\&P melakukan pendalaman materi terkait beban bunga yang harus ditanggung APBN dibandingkan dengan total penerimaan negara.

"Mereka mendiskusikan lebih dalam bahwa rating pembayaran bunga dibanding income-nya di atas 15 persen," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Pemerintah menyatakan komitmennya untuk terus memantau kondisi tersebut agar tidak mengganggu kesehatan fiskal secara jangka panjang. Purbaya menegaskan bahwa manajemen ekonomi akan diarahkan untuk memastikan kemampuan bayar tetap terjaga.

"Saya bilang itu akan kita monitoring terus dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan tetap kita jaga dan tidak memburuk dari sisi pembayaran," lanjut Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Selain masalah bunga utang, S\&P Global Ratings memeriksa konsistensi pemerintah dalam mematuhi aturan defisit anggaran. Penjagaan batas defisit di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi parameter krusial bagi investor untuk melihat kedisiplinan fiskal Indonesia.

"Mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga di bawah 3 persen dari PDB," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Guna merespons kekhawatiran tersebut, pemerintah memaparkan data pertumbuhan penerimaan pajak yang diklaim menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Restrukturisasi pada organisasi perpajakan dan kepabeanan disebut telah mulai memberikan dampak pada efisiensi pendapatan.

"Ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan di bulan Januari-Maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen, mereka sepertinya cukup puas," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Data laporan keuangan pemerintah memproyeksikan defisit anggaran akan mengalami penurunan dari 2,9 persen menjadi 2,8 persen. Langkah ini diambil untuk memastikan kepercayaan pasar tetap tinggi meski ruang fiskal terancam oleh tingginya beban bunga utang.