S\&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia pada Level BBB Stabil

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa lembaga pemeringkat internasional S\&P Global Ratings tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil pada Kamis (16/4/2026). Keputusan ini mengonfirmasi status layak investasi atau investment grade bagi Indonesia di mata pasar keuangan global.

Pengonfirmasian peringkat ini didapat setelah Purbaya melakukan pertemuan langsung dengan pihak S\&P di Washington D.C., Amerika Serikat, pada Selasa (14/4/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, penetapan outlook stabil tersebut menunjukkan bahwa kondisi fiskal Indonesia tidak berada dalam posisi yang lemah.

"Dan berita yang amat menyenangkan untuk saya adalah S\&P bilang mereka memberikan konfirmasi bahwa rating kita tetap BBB dengan outlook yang tetap stabil," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut, S\&P memberikan perhatian mendalam terhadap detail kondisi fiskal serta proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Lembaga tersebut ingin memastikan komitmen pemerintah dalam menjaga defisit anggaran agar tetap berada di bawah level 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Isu mengenai rasio pembayaran utang terhadap pendapatan pajak juga menjadi poin pembahasan utama. Meski menjadi perhatian, Purbaya meyakinkan bahwa rasio tersebut masih dalam batas terkendali dan belum mencapai kategori yang membahayakan stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah berencana melakukan langkah-langkah perbaikan melalui restrukturisasi organisasi perpajakan dan cukai guna meningkatkan performa pengumpulan pendapatan negara. Sepanjang dua bulan pertama tahun 2026, pertumbuhan pajak Indonesia tercatat mengalami kenaikan sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

S\&P Global Ratings sebelumnya sempat memberikan catatan dalam laporannya mengenai kerentanan peringkat utang di kawasan Asia Tenggara terhadap konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Kenaikan harga energi global dinilai berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan serta meningkatkan beban subsidi energi pada anggaran negara.

Perwakilan dari S\&P Global Ratings dijadwalkan akan melakukan kunjungan kembali ke Indonesia pada Juni 2026 mendatang. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan penilaian menyeluruh serta mendiskusikan kondisi ekonomi dan postur anggaran Indonesia secara lebih mendalam.