Saham BBCA Melesat 9,7 Persen Usai Bank Indonesia Naikkan BI Rate

Sedang Trending 5 jam yang lalu

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melonjak 500 poin atau 9,7 persen ke level Rp5.650 per saham pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026). Dilansir dari Bloomberg Technoz, lonjakan signifikan ini didorong oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Perdagangan saham BBCA mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp4 triliun dengan volume 743 juta saham yang diperjualbelikan sebanyak 122.030 kali. Harga emiten perbankan ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi di Rp5.700 per saham, sementara level terendahnya berada di posisi Rp5.175 per saham.

Kenaikan suku bunga acuan tersebut dinilai Panin Sekuritas memiliki kaitan erat dengan penguatan harga saham BBCA. BI sendiri tercatat telah menaikkan suku bunga pada 9 Juni 2026 sebesar 25 bps ke level 5,5 persen, setelah sebelumnya mengerek suku bunga sebesar 50 basis poin pada 20 Mei.

Riset dari analis Bloomberg Intelligence menilai kebijakan moneter terbaru ini berpotensi memberikan dorongan performa yang lebih besar bagi BBCA jika dibandingkan dengan bank-bank pesaingnya.

"PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berpotensi memperoleh peningkatan laba yang lebih besar dibanding bank-bank sejenis. Keunggulan BBCA terletak pada basis dana murah (low–cost–deposits) yang sangat besar, mencapai 81% dari total Dana Pihak Ketiga, lebih tinggi dibanding bank-bank sejenis yang berada di kisaran 67–70%," jelas Sarah Jane Mahmud dan Alison Hor, Analis Bloomberg Intelligence.

Struktur dana murah tersebut dinilai menempatkan BBCA dalam posisi strategis untuk mengelola tekanan kenaikan biaya pendanaan. Selain itu, kondisi ini mendukung pemulihan Net Interest Margin (NIM) setelah sempat mengalami penurunan sebesar 10 basis poin menjadi 5,7 persen pada tahun lalu.

Kebijakan BI terbaru ini juga diestimasikan mampu mendorong NIM BBCA melampaui batas atas target manajemen di rentang 5,4 hingga 5,6 persen, sekaligus melewati ekspektasi konsensus pasar yang memproyeksikan margin flat tahun ini.

"Sebagai gambaran, setiap kenaikan 10 basis poin pada margin berpotensi mendukung pertumbuhan laba pada kisaran high single digit (mencapai 7–9%), lebih tinggi dibanding proyeksi pasar saat ini yang memprediksi pertumbuhan laba sekitar 5%," terang Sarah dan Alison.

Sikap optimis juga ditunjukkan oleh konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg terhadap prospek emiten berkode saham BBCA ini. Sebanyak 35 dari 37 analis atau sekitar 94,6 persen memberikan rekomendasi beli dengan target harga 12 bulan ke depan berada di level Rp8.826 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sebesar 56,9 persen.

Target harga yang lebih agresif dipasang oleh analis Citi, Ferry Wong, yang menetapkan target di angka Rp9.800 per saham. Sementara itu, proyeksi paling optimistis datang dari Erwin Wijaya dari Verdhana Sekuritas yang memasang target harga saham BBCA hingga mencapai Rp10.100 per saham.