Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berbalik anjlok sebesar 3,24 persen ke level Rp 179 pada perdagangan sesi I hari Senin (25/5/2026). Penurunan tajam ini terjadi setelah pemerintah membantah rumor penundaan skema ekspor komoditas strategis.
Kondisi pada perdagangan Senin pagi berbanding terbalik dengan performa hari Jumat (22/5/2026) pekan lalu, saat saham emiten tambang ini melonjak hingga 12,80 persen ke level Rp 185. Aktivitas perdagangan mencatat sebanyak 2,09 miliar saham BUMI ditransaksikan dengan frekuensi 33.746 kali, serta nilai transaksi mencapai Rp 372 miliar.
Tekanan aksi jual yang masif membuat saham BUMI membukukan nilai penjualan bersih atau net sell sebesar Rp 72,7 miliar berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas pada sesi I. Angka tersebut menjadi nilai net sell tertinggi di antara saham-saham lainnya di bursa.
Lonjakan harga pada akhir pekan lalu dipicu oleh ulasan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) yang menyebutkan adanya isu penundaan ekspor satu pintu batu bara hingga 1 Januari 2027. Namun, situasi berbalik setelah BRIDS menginformasikan bahwa Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membantah kabar penundaan skema ekspor melalui DSI tersebut.
Di sisi lain, CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan saham milik Grup Bakrie dan Salim ini sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk menguat menuju level resistance dalam jangka pendek. Lembaga sekuritas tersebut memetakan batas pergerakan harga saham untuk para pemodal.
"BUMI memiliki support di 151-168. Target dekat di 194-203," tulis CGS International Sekuritas Indonesia seperti dilansir dari Investor Daily pada Senin (25/5/2026).
Meskipun sempat menguat signifikan pada hari Jumat, tren jangka panjang saham BUMI masih memperlihatkan kontraksi yang cukup dalam. Dalam akumulasi sepekan terakhir, nilai saham mengalami pelemahan sebesar 10 persen, merosot hingga 14,3 persen dalam kurun waktu satu bulan, dan mencatatkan kemerosotan year to date (ytd) mencapai 49,4 persen.
Data dari Stockbit turut mengungkapkan adanya aksi lepas saham oleh investor asing yang cukup masif pada perdagangan hari Jumat (22/5/2026) dengan nilai penjualan bersih asing menyentuh angka Rp 22,3 miar.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·