Wamentan Sebut Pelemahan Rupiah Beri Keuntungan bagi Petani Ekspor

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif bagi perekonomian domestik.

Dilansir dari Detik Finance, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyampaikan bahwa situasi ini justru memberikan keuntungan besar bagi jutaan petani di Indonesia yang berorientasi ekspor.

Menurut Sudaryono, para petani komoditas ekspor tersebut menikmati keuntungan karena pembayaran hasil bumi mereka menggunakan mata uang dolar AS.

Sejumlah komoditas perkebunan yang diuntungkan dari kenaikan nilai tukar dolar AS ini meliputi kopi, karet, cengkeh, gula aren, gula kelapa, hingga serabut kelapa.

Ketika hasil penjualan ekspor tersebut dikonversi ke dalam mata uang rupiah, maka secara otomatis nilai yang diterima para petani menjadi jauh lebih tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar AS dan berada pada posisi Rp 17.744 pada sore ini.

Kendati terus tertekan, Bank Indonesia menyatakan bahwa depresiasi yang terjadi pada mata uang garuda tersebut sejauh ini hanya sebesar 5%.

"Jadi sebetulnya nilai tukar (Rupiah) yang agak melemah (terhadap Dolar AS) ini ada beberapa,ada jutaan petani kita yang happy. Karena ekspor kopinya dibayar pakai Dolar, ekspor karetnya dibayar pakai Dolar, ekspor cengkeh, ekspor gula aren, ekspor gula, kelapa, ekspor serabut kelapa, ekspor macam-macam," kata Sudaryono dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Sudaryono mengungkapkan bahwa dirinya telah meresmikan langsung berbagai kegiatan ekspor yang dilakukan oleh UMKM serta koperasi desa di beberapa wilayah.

Beberapa daerah yang telah melakukan ekspor tersebut di antaranya adalah Banjarnegara, Banyumas, Jember, Kulon Progo, hingga sejumlah wilayah di Jawa Timur.

Produk-produk hasil pertanian beserta turunannya dari daerah-daerah tersebut dinilai sudah mulai banyak yang berhasil menembus pasar internasional.

"Saya sudah meresmikan ekspor UMKM mungkin di 4 atau 5, oh di 8 koperasi desa,di Banjarnegara, Jember kemudian di Banyumas, kemudian di Jawa Timur, di Kulon Progo, di Jogja, dan happy," sebut Sudaryono.

Meski demikian, Sudaryono tidak menampik bahwa pelemahan rupiah ini tetap membawa tantangan tersendiri bagi ketahanan pangan nasional.

Tantangan tersebut muncul karena Indonesia saat ini masih harus mengimpor sebagian kecil dari kebutuhan komoditas pangan tertentu dari luar negeri.

Namun, situasi sulit ini dipandang sebagai momentum yang tepat untuk memperkuat kapasitas produksi pertanian di dalam negeri sekaligus memperbesar volume ekspor.

"Jadi tentu saja ini jadi tantangan, betul nilai tukar ini juga ada beberapa kebutuhan pangan kita yang masih impor,tapi selama kita bisa genjot ekspor dengan nilai tukar ini, bisa jadi krisis ini menjadi sebuah opportunity yang besar bagi Indonesia, kita mandiri di sektor pangan, bahkan kalau surplus kita bisa ekspor," tutup Sudaryono.