Sejumlah Kapal Tanker Berhasil Lintasi Selat Hormuz di Tengah Blokade

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Arus pelayaran energi global mulai menunjukkan aktivitas terbatas melalui Selat Hormuz pada Rabu (15/4/2026), di tengah blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran yang memicu ketidakpastian pengiriman minyak dunia.

Dilansir dari Detik Finance, jalur strategis yang biasanya menampung seperlima ekspor minyak dan gas dunia tersebut hampir lumpuh total sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026.

Data pelayaran menunjukkan kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Malta, Agios Fanourios I, memasuki kawasan teluk pada 15 April 2026 untuk mengangkut minyak mentah dari Irak menuju Vietnam.

Malaysia juga mengamankan pasokan energinya melalui tanker Serifos yang melewati jalur alternatif Pulau Larak pada 10 April 2026, serta kapal Ocean Thunder yang membawa 1 juta barel minyak mentah dari Irak.

Cina dan India turut mencatatkan keberhasilan navigasi melalui kapal-kapal seperti Cospearl Lake dan He Rong Hai milik unit usaha Sinopec yang keluar dari selat pada 11 April 2026 untuk pengiriman ke pelabuhan domestik.

India mengerahkan setidaknya empat kapal tanker, termasuk VLCC Habrut dan Marathi, guna memasok minyak dari Abu Dhabi dan Arab Saudi untuk kebutuhan Indian Oil Corporation serta Reliance Industries selama Maret dan April 2026.

Sektor logistik gas juga melaporkan dua kapal tanker LPG tujuan India, BW Tyr dan BW Elm, sukses mendistribusikan sekitar 94.000 metrik ton gas setelah melewati Selat Hormuz pada awal April.

Sementara itu, Pakistan mengirimkan tanker Shalamar dan Khairpur pada 12 April 2026, dan Thailand berhasil meloloskan kapalnya melalui koordinasi diplomatik tanpa dikenakan biaya tambahan akibat blokade.

"Minyak mentah yang dibongkar di Myanmar biasanya dikirim di kilang Yunnan milik PetroChina," ujar laporan tersebut menjelaskan jalur distribusi minyak Saudi yang melintasi selat pada 2 April 2026.

Kapal tanker jenis Suezmax bernama Pola dilaporkan telah membongkar muatan 1 juta barel minyak mentah di Singapura dan Thailand sebagai bagian dari kelanjutan operasional energi di kawasan Asia Tenggara.