Program Sekolah Rakyat berhasil mengubah arah hidup Julio, seorang anak yatim piatu berusia muda di Kampung Kedung Tungkul, Surakarta, Jawa Tengah. Berkat dukungan sang nenek, Welas (74), Julio kini dapat kembali mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 2 Surakarta, setelah sebelumnya terjerumus dalam kenakalan remaja. Informasi ini dilansir dari Detikcom pada Senin (13/4/2026).
Julio, yang kehilangan ayahnya sejak usia satu tahun, tumbuh dalam keterbatasan ekonomi bersama neneknya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang nenek berjualan sayur keliling. Kondisi ini membuat Julio sempat putus sekolah di kelas 3 SD dan terlibat dalam pergaulan yang salah, ditandai dengan aksi lempar batu hingga membawa senjata tajam.
Kementerian Sosial memandang kisah Julio sebagai representasi nyata dari anak-anak yang memerlukan uluran tangan negara untuk menemukan kembali arah hidup. Bagi mereka, Julio bukan sekadar data statistik kemiskinan atau potret anak putus sekolah.
Kekhawatiran Welas akan masa depan cucunya sangat mendalam. Ia terus berupaya mencari solusi agar Julio tidak semakin tersesat. Harapan tersebut akhirnya terwujud melalui inisiatif Sekolah Rakyat.
Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan berasrama gratis yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Program ini diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Keberadaan sekolah ini menjadi titik balik penting bagi Julio.
Sejak bergabung dengan Sekolah Rakyat, perubahan positif terlihat pada perilaku Julio. Yang sebelumnya sulit diatur, kini ia menunjukkan sikap yang lebih tenang dan mulai kembali belajar. Ia juga menunjukkan kedekatan emosional yang lebih hangat dengan neneknya.
“Sekarang dia lebih dekat. Bisa merangkul, menciumi saya. Katanya senang di sekolah,” kata Welas dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (13/4/2026).
Bagi Kementerian Sosial, Sekolah Rakyat berfungsi sebagai ruang aman yang memulihkan. Di tempat ini, anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, kedisiplinan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Program sekolah berasrama ini juga secara signifikan meringankan beban keluarga Welas. Kebutuhan dasar Julio kini terpenuhi, menghilangkan keharusan neneknya untuk menyediakan uang jajan harian yang sebelumnya memberatkan. Negara hadir sebagai pelindung bagi anak-anak rentan, tidak hanya sebagai penyedia layanan.
Meski usia Welas semakin senja, ia kini bisa sedikit bernapas lega. Harapan terbesarnya sederhana, agar Julio tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, dan tidak terlantar di kemudian hari.
Welas seringkali menyelipkan doa untuk masa depan cucunya. “Kalau saya sudah tidak ada, saya titip cucu saya. Semoga dia jadi orang baik,” ucapnya, menggambarkan harapan yang suatu hari harus ia lepaskan.
Kisah Julio menjadi bukti nyata bahwa intervensi yang tepat dapat mengubah nasib seorang anak. Melalui Sekolah Rakyat, Kementerian Sosial terus berkomitmen untuk memastikan anak-anak seperti Julio tidak kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan yang mereka hadapi.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·