Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan koreksi sebesar 0,68 persen ke posisi 6.858,90 pada penutupan perdagangan sesi kedua, Selasa (12/5/2026). Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat menguat hingga 1 persen pada awal pembukaan sebelum akhirnya berbalik arah akibat aksi jual pelaku pasar.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 463 saham mengalami penurunan harga, sementara 207 saham menguat dan 151 saham lainnya tidak bergerak. Aktivitas pasar melibatkan transaksi senilai Rp16,29 triliun dengan volume 32,97 miliar saham yang berpindah tangan melalui 2,53 juta kali frekuensi transaksi.
Sektor kesehatan menjadi beban utama indeks dengan anjlok sebesar 4,78 persen, diikuti sektor teknologi yang merosot 4,08 persen dan utilitas sebesar 2,24 persen. Pelemahan ini menempatkan kinerja bursa domestik sebagai salah satu yang terburuk di Asia-Pasifik, hanya berada di atas indeks KOSPI Korea Selatan yang terkoreksi lebih dari 2 persen.
Emiten PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) tercatat sebagai penekan terbesar dengan kontribusi penurunan 24,21 poin setelah sahamnya menyentuh batas auto reject bawah (ARB) 15 persen ke level 7.650. Selain itu, saham Astra International (ASII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga turut menekan laju indeks.
Kekhawatiran investor meningkat menjelang pengumuman tinjauan indeks MSCI yang dijadwalkan pada hari ini. Pasar mengantisipasi potensi pengurangan bobot saham Indonesia yang dapat memicu keluarnya aliran modal asing dari pasar modal dalam negeri.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan regulator tengah memantau hasil pengumuman tersebut sebagai bagian dari upaya penguatan integritas pasar.
"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain," ujar Friderica, Senin (11/5/2026).
Pihak Bursa Efek Indonesia memproyeksikan adanya dampak fluktuasi sesaat jika tidak ada emiten baru yang masuk ke dalam indeks global tersebut.
"Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain," ujar Jeffrey.
Selain faktor domestik, tekanan terhadap aset berisiko juga dipicu oleh lonjakan nilai tukar dolar AS yang menyebabkan rupiah melemah ke level Rp17.500 per dolar AS. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut membebani sentimen pasar global setelah perundingan gencatan senjata dilaporkan terhambat.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·