Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah Lebanon melaporkan sebanyak 10.000 rumah warga hancur akibat gempuran Israel sejak kesepakatan gencatan senjata dimulai. Data kerusakan ini mencakup ribuan unit bangunan yang rata dengan tanah maupun mengalami kerusakan berat di wilayah terdampak konflik.
Kepala Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah Lebanon (CNRS), Chadi Abdallah, memaparkan rincian kerusakan bangunan tersebut dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan media lokal pada Rabu (13/5/2026). Informasi mengenai skala kehancuran pemukiman warga ini juga dilansir dari Detikcom melalui laporan AFP.
"Sejak gencatan senjata saat ini... kami telah menyaksikan 5.386 unit rumah yang hancur total, dan 5.246 unit rumah yang rusak," kata kepala CRNS, Chadi Abdallah.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah ditetapkan sejak 17 April, militer Israel dilaporkan terus melancarkan serangan udara dalam skala besar. Operasi militer tentara Israel terpantau masih berlangsung di dalam area garis kuning yang mencakup radius 10 kilometer ke arah utara dari perbatasan Israel-Lebanon.
Selain kerugian materi, eskalasi serangan terbaru di wilayah Lebanon selatan turut memicu timbulnya korban jiwa. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa setidaknya 13 orang meninggal dunia akibat rangkaian serangan udara yang menyasar beberapa kota berbeda.
Para korban yang teridentifikasi mencakup personel militer, petugas medis, serta warga sipil. Kementerian Kesehatan merinci bahwa serangan di Nabatieh merenggut nyawa lima orang, termasuk petugas penyelamat dari Pertahanan Sipil setempat.
"Serangan di kota Nabatieh menewaskan lima orang, termasuk dua petugas penyelamat Pertahanan Sipil," kata kementerian itu.
Insiden mematikan lainnya terjadi di wilayah sekitar Jebchit yang menewaskan empat orang. Berdasarkan data otoritas kesehatan, korban di lokasi tersebut melibatkan seorang tentara Lebanon dan seorang warga berkebangsaan Suriah.
Sementara serangan lain di sekitar Jebchit menewaskan empat orang. Korban "termasuk seorang tentara dan seorang warga negara Suriah".
Serangan mematikan ketiga dilaporkan mengguncang wilayah Bint Jbeil. Otoritas setempat menyatakan empat warga sipil menjadi korban dalam peristiwa tersebut, yang melibatkan kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
Serangan ketiga terjadi di Bint Jbeil. Serangan ini menewaskan "empat warga sipil, termasuk seorang anak dan seorang wanita".
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·