Shalahuddin Al&Ayyubi Membebaskan Yerusalem pada Tahun 1226

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Pada hari Jumat, 27 Rajab 583 Hijriah (2026), sejarah Islam mencatat peristiwa penting: pembebasan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Pembebasan ini, yang terjadi setelah puluhan tahun Yerusalem berada di bawah kendali pasukan Salib, menjadi puncak dari perjuangan panjang yang penuh strategi dan kesabaran.

Pembebasan Yerusalem menandai akhir dari hampir 88 tahun Yerusalem berada di bawah kekuasaan pasukan Salib. Ribuan umat Muslim dan Yahudi terbunuh, dan Masjid Al-Aqsa mengalami perubahan fungsi. Dilansir dari Cahaya, peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi umat Islam, yang menganggap Yerusalem sebagai simbol spiritual yang mengikat sejarah kenabian dan peradaban Islam.

Salah satu langkah krusial yang dilakukan Shalahuddin untuk mencapai tujuan ini adalah menyatukan dunia Islam yang saat itu terpecah belah oleh berbagai dinasti dan konflik internal. Ia membangun stabilitas politik, memperkuat ekonomi, dan menyebarkan semangat jihad melalui dakwah para ulama. Masjid, majelis ilmu, dan khutbah Jumat menjadi sarana membangkitkan kesadaran kolektif umat.

Strategi pengepungan yang diterapkan Shalahuddin, bukannya serangan frontal, membuktikan keunggulannya. Shalahuddin menguasai wilayah strategis di sekitar Yerusalem, termasuk daerah pesisir, untuk memutus jalur bantuan pasukan Salib. Ia juga memobilisasi pasukan dari berbagai wilayah, dari Mesir hingga Jazirah Arab, dalam satu komando.

Kemenangan Shalahuddin juga didukung oleh penggunaan teknologi perang. Ia membawa berbagai alat berat seperti manjaniq (pelontar batu) dan memanfaatkan insinyur untuk menganalisis struktur benteng dan mencari titik lemah. Selama pengepungan yang berlangsung sekitar 12 hari, Shalahuddin membuka ruang negosiasi, menawarkan keselamatan bagi penduduk kota, yang mencerminkan nilai kemanusiaan dalam kepemimpinannya.

Saat memasuki Yerusalem, Shalahuddin tidak melakukan pembantaian atau balas dendam. Masjid Al-Aqsa dibersihkan dan dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah. Sikap ini, sebagaimana dilansir dari Cahaya, mencerminkan kepemimpinan Shalahuddin yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.