Maskapai Singapore Airlines (SIA) memberikan penjelasan resmi mengenai status halal pada menu makanan Muslim setelah munculnya keraguan penumpang terkait prosedur penyajian dan sertifikasi pada Sabtu, 27 April 2026. Diskusi ini mencuat di media sosial setelah seorang pengguna mempertanyakan penggunaan oven yang sama untuk memanaskan makanan halal dan non-halal.
Pihak manajemen Singapore Airlines menegaskan bahwa seluruh opsi makanan Muslim yang disajikan telah dipersiapkan tanpa menggunakan daging babi, lemak babi, maupun alkohol. Meski demikian, pihak maskapai mengakui bahwa operasional mereka di dalam pesawat belum memegang sertifikasi halal secara resmi karena kendala teknis pada peralatan makan.
Juru bicara Singapore Airlines memberikan rincian lebih lanjut mengenai sumber bahan baku dan proses pengolahan makanan tersebut kepada publik.
"Pihak maskapai mengonfirmasi bahwa pilihan makanan Muslim yang disajikan oleh SIA disiapkan tanpa daging babi, lemak babi, atau alkohol. Meskipun belum bersertifikat halal, bahan-bahan mereka diambil dari pemasok yang bersertifikat halal," ujar juru bicara Singapore Airlines dilansir dari detikfood.
Pihak maskapai menjelaskan bahwa tidak adanya sertifikasi resmi disebabkan oleh penggunaan peralatan makan yang tidak dipisahkan berdasarkan jenis hidangan. Selain itu, makanan dipanaskan di dalam oven yang sama dengan menu lainnya, meskipun SIA mengklaim telah menerapkan prosedur ketat untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
Seorang pengguna media sosial yang mengklaim sebagai kru kabin maskapai tersebut ikut memberikan penjelasan mengenai prosedur teknis saat melayani penumpang di pesawat.
"Pertama-tama kami akan memastikan kepada penumpang apakah itu makanan yang benar yang mereka pesan. Kemudian kami akan menggunakan oven lain untuk memanaskan makanan tersebut jika tersedia. Tetapi jika semua oven sedang digunakan, kami akan meletakkan makanan halal di rak oven paling atas," kata kru kabin tersebut.
Penjelasan ini sekaligus merespons pertanyaan mengenai bagaimana maskapai menangani keterbatasan fasilitas di dapur pesawat. Seorang netizen lain juga membagikan preferensi pribadinya saat melakukan perjalanan udara dengan maskapai tersebut.
"Saya biasanya makan ikan atau seafood, atau memesan makanan Muslim sebelum penerbangan," ujar netizen tersebut.
Polemik ini turut memicu respons dari Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) melalui akun media sosial resminya. Otoritas agama tersebut memberikan klarifikasi untuk menenangkan kekhawatiran para penumpang Muslim.
"Meskipun oven mungkin digunakan bersama, penerbangan umumnya memiliki prosedur untuk mencegah kontaminasi silang. Misalnya, makanan yang disegel dan penanganan yang tepat," jelas MUIS.
MUIS menambahkan bahwa ketiadaan sertifikat pada sebuah maskapai tidak secara otomatis membuat makanan tersebut menjadi tidak halal. Mereka memastikan bahwa hidangan Muslim disiapkan di fasilitas yang telah bersertifikat halal sebelum dikirim ke pesawat yang berangkat dari Singapura. Sebagai langkah antisipasi, MUIS tetap menyarankan penumpang untuk memeriksa bahan kandungan atau menghubungi maskapai 24 jam sebelum keberangkatan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·