Siswa SMAN 1 Pontianak Terima Beasiswa Usai Protes LCC MPR

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Sejumlah siswa SMAN 1 Pontianak mendapatkan apresiasi berupa beasiswa dan undangan khusus dari pejabat negara setelah aksi protes mereka dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI viral di media sosial. Pertemuan tersebut berlangsung di Jakarta pada Rabu (13/5/2026).

Keberanian Josepha Alexandra, yang akrab disapa Ocha, beserta timnya menarik perhatian publik setelah video protes mereka terhadap keputusan juri tersebar luas. Dilansir dari Detikcom, para siswa ini diundang langsung oleh Ketua Komisi II DPR RI dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ocha mengaku terkejut dengan dukungan besar yang diberikan oleh masyarakat terhadap aksi timnya di ajang perlombaan tersebut.

"Dari saya dan tim berterima kasih kepada masyarakat atas dukungan dan aspirasi positifnya kepada kami. Semoga hal ini dapat menjadi semangat dan motivasi kami untuk berkembang dan maju lagi ke depannya," ujar Ocha.

Dalam pertemuan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, siswi tersebut menegaskan bahwa dirinya tidak menyangka video keberaniannya akan mendapatkan respons yang sangat masif dari pengguna internet.

"Saya dan tim sebenarnya tidak menyangka bahwa atensinya bisa sebesar ini dan video yang tersebar juga booming," tambahnya.

Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, memberikan pujian atas kualitas komunikasi para siswa SMAN 1 Pontianak yang merupakan almamaternya. Ia menilai kemampuan berbicara di depan umum para juniornya itu sangat luar biasa untuk ukuran siswa sekolah menengah.

"Saya kira saya terkejut melihat kemampuan komunikasi adik-adik saya. Ini kan kalau saya dulu berarti kelas I, kelas II SMA. Waktu itu saya memimpin OSIS di SMA ini nggak sebagus ini kemampuan komunikasi saya," ujar Rifqi.

Politisi tersebut juga mengingatkan bahwa meskipun para siswa ini menunjukkan mental yang kuat, faktor psikologis mereka sebagai remaja tetap harus menjadi pertimbangan utama semua pihak.

"Yang tidak kalah penting kita juga harus sadar mereka adalah remaja yang secara psikologi harus kita proteksi," sambungnya.

Rifqinizamy secara spontan menjanjikan beasiswa pendidikan tinggi untuk seluruh anggota tim yang berjumlah sepuluh orang agar mereka dapat melanjutkan studi ke luar negeri.

"Mudah-mudahan setelah ini selesai, saya juga kemarin secara spontan memberi apresiasi untuk memberi beasiswa studi S1 ke China kepada Ocha. Tadi saya udah sampaikan kepada adik-adik yang 9 lagi, saya akan carikan beasiswa yang sama untuk adik-adik yang 9 ini karena mereka kan nggak mungkin sampai pada titik ini kalau mereka nggak bareng," ujar Rifqi.

Ia menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim sehingga apresiasi yang diberikan harus merata kepada semua peserta.

"Ini kan kerja kolektif dan saya kira saya mengapresiasi adik-adik saya ini hebat semua. Terima kasih atas apresiasi publik untuk SMA Negeri 1 Pontianak," katanya.

Protes bermula ketika juri Dyastasita memberikan nilai minus lima kepada Grup C SMAN 1 Pontianak atas jawaban proses pemilihan anggota BPK, namun memberikan nilai 10 kepada Grup B SMAN 1 Sambas untuk jawaban yang identik secara substansi.

Almira, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa kekompakan dan keterbukaan di antara mereka menjadi modal utama untuk berani mengoreksi keputusan juri yang dianggap tidak adil.

"Dari awal kita kan sudah menanamkan untuk chemistry, seperti yang sudah teman saya katakan tadi. Jadi ketika kita membangun chemistry ini juga kita saling terbuka, kemudian kita ini membangun rasa berani ketika kita punya salah? Kemudian ada yang perlu di evaluasi," kata Almira.

Ia menambahkan bahwa perbedaan skor yang sangat kontras untuk jawaban yang secara kalimat memiliki kesamaan persis menjadi alasan kuat mereka melayangkan protes.

"Dari itulah kita belajar untuk ketika dalam perlombaan, ketika ada kekeliruan, itu perlu kita evaluasi juga dengan penyelenggara lomba itu sendiri," lanjutnya.

Almira merinci bahwa kejanggalan terjadi ketika juri memberikan nilai penuh kepada tim lain yang mengulangi jawaban serupa dengan yang disampaikan Ocha sebelumnya.

"Nah, ketika host itu melemparkan soal kepada grup A dan juga grup B, grup B menjawab dengan pertanyaan... dengan jawaban yang sama. Sangat sama sekali, secara substansi juga sama. Kemudian diberikan nilai 10 poin oleh juri," tutur Almira.

Para siswa merasa yakin untuk melakukan interupsi karena mereka mendengar dengan jelas kesamaan substansi dan kalimat yang dilontarkan oleh kedua tim tersebut.

"Maka di situ kami juga kaget, jujur kita kaget sekali karena memang tidak hanya secara substansi tapi secara kalimat yang dilontarkan Ocha sebagai tim C dan juga dengan tim B itu memiliki kesamaan yang persis. Makanya kami di situ pede sekali untuk bisa protes kepada dewan juri," katanya.

Zein, anggota tim lainnya, mengungkapkan bahwa fokus utama mereka selama latihan adalah membangun ikatan emosional, bukan sekadar menghafal materi lomba agar suasana kompetisi terasa lebih ringan.

"Sebenarnya kami tuh fokusnya bukan belajar doang ya. Jadi kami juga membangun tim ini dengan chemistry dengan tujuan untuk, jadi untuk lomba kita ini nggak semena-mena untuk menang doang gitu. Jadi kita juga ada memori yang kita bangun. Lalu juga dalam pelaksanaan lomba itu dua kali lebih gampang menurut kami," ujar Zein.

Siswa tersebut menjelaskan bahwa setiap sesi latihan selalu diakhiri dengan evaluasi yang jujur tanpa melibatkan perasaan pribadi agar setiap kekurangan bisa segera diperbaiki.

"Kalau evaluasi setiap penghujung antara kami latihan itu selalu ada, terutama dari pembimbing kami di sini. Kemudian dari antar teman juga, karena kami di sini dari awal bertemu, pertemuan pertama kami menekankan harus terbuka. Jadi nggak usah bawa perasaan gitu," katanya.

Selain bertemu anggota DPR, tim ini juga diterima oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden. Ocha menuturkan bahwa mereka mendapatkan arahan khusus terkait teknik berdebat dan berbicara di depan publik.

"Pastinya perasaan saya sangat senang karena diundang oleh Wakil Presiden Indonesia dan ini menjadi suatu harapan dan semangat bagi kami untuk terus melangkah maju dan berkembang," kata Ocha.

Dalam pertemuan tertutup tersebut, Wapres memberikan motivasi kepada para siswa asal Kalimantan Barat ini untuk terus mempertahankan prestasi mereka di masa depan.

"Di dalam tadi kami diberi motivasi sama Pak Wapres untuk terus belajar dan berprestasi," katanya.

Selain pesan motivasi, Ocha menyebutkan bahwa Gibran membagikan pengalaman praktis mengenai cara menghadapi forum diskusi umum yang kompetitif.

"Tadi kami diberi motivasi dan tips and trick juga bagaimana caranya nanti untuk ber-public speaking atau untuk berdebat di muka umum," sambung Ocha.