Kawasan Eropa menghadapi ancaman krisis energi baru setelah pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) melalui Selat Hormuz mengalami gangguan selama berbulan-bulan, seperti dilansir dari Money pada Senin (25/5/2026).
Perusahaan energi Norwegia, Equinor, memberikan peringatan bahwa cadangan gas Benua Biru berisiko masuk ke level kritis apabila jalur pelayaran strategis tersebut terus terhambat dalam satu hingga tiga bulan ke depan.
Lalu lintas tanker LNG dan minyak dunia saat ini terganggu akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, padahal Selat Hormuz menjadi lintasan bagi sekitar seperlima perdagangan energi global.
Berdasarkan laporan Reuters, kapasitas penyimpanan gas Eropa kini berada di angka sedikit di atas 35 persen, jauh di bawah rata-rata musiman yang biasanya mendekati 50 persen serta target Uni Eropa sebesar 90 persen sebelum musim dingin.
Senior Vice President Gas and Power Market Equinor, Helle Ostergaard Kristiansen, menjelaskan bahwa Eropa masih berpeluang memperbaiki keadaan jika gangguan ini dapat segera diselesaikan.
"Jika konflik berakhir sekarang, kami mungkin masih bisa mencapai sekitar 75 persen kapasitas penyimpanan," ujar Helle Ostergaard Kristiansen, Senior Vice President Gas and Power Market Equinor.
Pihak Equinor menambahkan bahwa risiko di sektor energi ini akan meningkat secara drastis apabila eskalasi di Timur Tengah terus berlanjut tanpa kepastian akhir.
"Jika gangguan berlangsung satu hingga tiga bulan lagi, situasi dapat berubah menjadi kritis bagi kawasan Eropa," ujar Helle Ostergaard Kristiansen, Senior Vice President Gas and Power Market Equinor.
Sebelum konflik memanas, cadangan gas Eropa sudah tertekan akibat musim dingin yang panjang dan tingginya permintaan energi, dengan data GMK Center menunjukkan tingkat penyimpanan Uni Eropa awal April 2026 hanya berkisar 28 persen.
Proses pengisian ulang tidak optimal karena harga kontrak gas musim dingin lebih murah daripada musim panas, ditambah ketatnya pasokan LNG global karena Eropa harus berebut kargo dengan negara-negara Asia.
Oilprice.com melaporkan kombinasi faktor tersebut membuat pengisian tangki gas menjadi lebih mahal, sehingga Equinor memproyeksikan harga acuan Dutch TTF bisa melonjak hingga 90 euro per megawatt hour (MWh) dari harga saat ini di kisaran 50 euro per MWh.
Vice President Gas and Power Trading Equinor, Peder Bjorland, menilai lonjakan harga akan memaksa sektor industri mengurangi pemakaian energi melalui mekanisme pasar.
"Konsumsi gas untuk pembangkit listrik saja bisa turun hingga 10 milyar meter kubik apabila harga naik ke kisaran 60 hingga 70 euro per MWh," ujar Peder Bjorland, Vice President Gas and Power Trading Equinor.
Sektor manufaktur, baja, pupuk, dan petrokimia menjadi yang paling rentan, terlebih setelah IEA mencatat harga acuan Dutch TTF melonjak lebih dari 45 persen sejak akhir Februari hingga awal Mei 2026 akibat berhentinya sebagian tanker di Selat Hormuz.
Pasar sempat menunjukkan optimisme setelah Wall Street Journal melaporkan harga gas Eropa turun sekitar 5 persen berkat harapan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali selat tersebut.
Namun, lembaga ING menilai penurunan harga ini menjadi tantangan baru karena membuat Eropa kehilangan daya tarik dibanding pasar Asia dalam memperebutkan pasokan LNG global yang selisih harganya semakin melebar.
Tekanan tidak hanya melanda sektor gas, karena IEA ikut memperingatkan pasar minyak dunia akan memasuki zona merah pada Juli atau Agustus 2026 seiring hilangnya pasokan 14 juta barrel per hari.
"Kombinasi antara tingginya permintaan musim panas, menipisnya stok minyak, dan berkurangnya ekspor energi dari Timur Tengah membuat situasi semakin berisiko," ujar Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.
Negara-negara anggota IEA telah menggelontorkan sekitar 400 juta barrel cadangan minyak strategis untuk meredam kepanikan pasar global.
"Langkah tersebut hanya bersifat sementara dan tidak cukup apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali," ujar Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.
Reuters dalam analisisnya menyebutkan bahwa cadangan energi dunia terus terkuras, dan pasar energi global diperkirakan akan menghadapi tekanan yang jauh lebih besar pada paruh kedua tahun ini.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·